Penulis: Rif’ah Kholidah Wahyuni
Muslimah News, KISAH INSPIRATIF — Salah seorang ibu yang namanya diabadikan dalam sejarah adalah Kabsyah binti Rafi’ bin Ubaid. Beliau adalah ibunda dari dua sahabat Rasulullah saw., yaitu Sa’ad bin Mu’adz (pembawa bendera kaum Anshar) dan Amr bin Mu’adz. Kabsyah merupakan salah seorang shahabiyah yang pertama berislam sejak hadirnya dakwah Islam di Madinah. Beliau juga salah satu wanita yang mula-mula membaiat Rasulullah saw. bersama Ummu Amir binti Yazid as-Sakan dan Hawwa’ binti Yazid as-Sakan. Mereka berislam melalui dakwah yang disampaikan Mush’ab bin Umair ra. yang diutus Rasulullah saw. menjadi duta dakwah. Sosok Kabsyah binti Rafi’ selalu menjadi panutan para ibu karena mengemban cita-cita agama dan mempertaruhkan seluruh anaknya untuk jihad, turun ke medan peperangan di jalan Allah hingga menggapai kesyahidan demi menegakkan Islam dan meninggikan kalimat Allah. Salah satu kisah yang tercatat dalam sejarah adalah perannya dalam tiga peperangan, yaitu Perang Badar, Perang Uhud, dan Perang Khandaq.
Ketika Perang Badar terjadi, Kabsyah binti Rafi’ ra. mendorong dan menyemangati kedua putranya, yakni Sa’ad bin Mu’adz dan ‘Amr bin Mu’adz ra. untuk ikut berjihad. Beliau sangat bahagia ketika kedua anaknya bergabung dalam misi tersebut. Bahkan, sang ibu berharap agar putranya dianugerahi syahid di jalan-Nya. Namun, takdir ternyata berbeda. Mereka pulang dengan selamat dan memperoleh kemenangan.
Pada saat Perang Uhud, Kabsyah (Ummu Sa’ad) mengutus kedua putranya untuk berperang dan membela agama Allah. Beliau keluar untuk meyakinkan dirinya tentang kondisi Rasulullah saw. saat itu. Beliau memperhatikan wajah-wajah pasukan kaum muslim yang kembali dari peperangan dan mencari kedua putranya. Ternyata putra beliau ‘Amr bin Mu’adz ra. syahid dalam Perang Badar. Rasulullah saw. mengucapkan belasungkawa atas syahidnya ‘Amr bin Mu’adz pada usia tiga puluh tahun.
Ummu Sa’ad berkata kepada Rasulullah saw., “Apabila aku menyaksikan engkau selamat, maka sungguh, musibah ini menjadi ringan.” Kemudian, Rasulullah saw. mendoakan keluarga orang-orang yang syahid pada Perang Uhud. Beliau bersabda, “Wahai Ummu Sa’ad, terimalah berita gembira dan sampaikanlah berita gembira kepada keluarga mereka bahwa anggota keluarga mereka yang syahid, semuanya saling berteman di surga. Sungguh, syafaat mereka semua untuk keluarganya telah diterima.”
Ummu Sa’ad pun berkata, “Wahai Rasulullah saw., kami rida. Siapakah yang akan menangisi mereka lagi setelah ini?” Kemudian ia berkata lagi, “Wahai Rasulullah saw., berdoalah kepada Allah untuk orang-orang yang mereka tinggalkan.”
Rasulullah saw. lalu berdoa, “Ya Allah, hilangkanlah kesedihan hati mereka, gantikanlah yang hilang dari mereka, dan perbaikilah keadaan penggantinya bagi orang yang mereka tinggalkan.”
Sungguh, Ummu Sa’ad sangat luar biasa dalam menjalankan perannya sebagai seorang ibu yang tangguh dan penyabar. Beliau menerima dan rida terhadap ketentuan Allah Taala. Bahkan, bukan hanya dalam Perang Badar dan Perang Uhud, tetapi juga pada Perang Khandaq, Ummu Sa’ad membawa putranya, yakni Sa’ad bin Mu’adz.
Diriwayatkan dari Aisyah ra., “Kami berada di dalam benteng bani Haritsah sebelum hijab disyariatkan. Pada saat itu, Ummu Sa’ad pun berada bersama kami. Kemudian, Sa’ad bin Mu’adz lewat dengan memakai baju besi yang terbuka pada bagian kedua tangannya (dari siku hingga ujung jari). Demi Allah, pada waktu itu, aku sungguh khawatir ia akan terluka karena kondisi tangannya yang terbuka itu. Ia pun berlalu sambil menyandang tombak di tangannya seraya menyenandungkan sebait syair, ‘Hamal (bin Sa’danah) pun berhenti sejenak memperhatikan medan perang. Sungguh, indahnya kematian jika ajal telah menjelang.'” Ummu Sa’ad berkata, “Wahai putraku, bersegeralah menyusul Rasulullah saw..
Aisyah pun berkata, “Demi Allah, wahai Ummu Sa’ad. Menurutku akan lebih baik jika baju besi Sa’ad itu menutupi seluruh tangannya hingga ke ujung jarinya.” Sang ibu lalu menjawab, “Allah akan melaksanakan apa yang telah Dia tetapkan.” Sungguh, pada perang tersebut, Sa’ad bin Mu’adz terkena lemparan panah. Hal ini menyebabkan kematiannya sebagai syahid di jalan Allah sehingga Ummu Sa’ad menjadi ibu dari kedua putranya yang syahid. Beliau sangat sedih dengan kepergian kedua putranya. Akan tetapi, beliau tetap rida terhadap ketetapan Allah baginya.
Diriwayatkan dari Ibrahim bin al-Husain, dari Al-Miswar bin Rifa’ah, ia berkata, “Ummu Sa’ad datang untuk melihat Sa’ad dalam kuburnya. Kemudian, orang-orang pun memintanya untuk pulang. Namun, Rasulullah saw. bersabda, ‘Biarkanlah ia.'” Ummu Sa’ad pun maju hingga dapat melihat Sa’ad di dalam kuburnya sebelum jenazah Sa’ad ditimbuni dengan tanah. Ummu Sa’ad berkata, “Aku akan sabar atas kematianmu karena Allah.”
Ummu ‘Athiyyah al-Anshariyyah mengatakan, “Pada saat berbaiat, kami diminta berjanji untuk tidak meratap. Namun, tidak ada di antara kami yang menepatinya, kecuali lima orang saja, di antaranya adalah Ummu Mu’adz dan istri Mu’adz.
Demikianlah sejarah telah mencatatkan untuk kita agar kita mengibrah kisah seorang ibu yang tangguh, pemberani, dan penyabar. Beliau merelakan putranya di jalan Allah dengan penuh keridaan karena kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya sehingga musibah kematian kedua putranya menjadi ringan baginya. Beliau menerima ketetapan Allah Swt. dan tidak mencegahnya dari kabar gembira yang disampaikan melalui lisan Rasulullah saw. yang mulia. Ummu Sa’ad pun menyampaikan kepada Rasulullah saw. bahwa seluruh pasukan yang syahid dalam Perang Uhud berada di surga sehingga beliau merasa senang karenanya.
Keberanian Ummu Sa’ad yang luar biasa mampu mendorong anaknya untuk berperang dan menyuruhnya bersegera supaya tidak tertinggal oleh Rasulullah saw. sehingga Sa’ad bin Mu’adz pun menjadi sahabat yang pemberani. Kesabaran Ummu Sa’ad atas kematian putranya dan penyerahan dirinya kepada Allah membuat beliau tidak memberikan seluruh kesedihannya kepada putranya. Sungguh, Rasulullah saw. telah bersabda, “Setiap wanita yang menangis pasti berlebihan, kecuali Ummu Sa’ad. Apa yang ia katakan merupakan kebaikan, jadi ia tidak akan dusta.”
Semoga kita bisa meneladan ketangguhan, keberanian, dan kesabaran yang dicontohkan Ummu Sa’ad ketika menyerahkan seluruh anaknya berjihad di jalan Allah dan menjadi syuhada di jalan-Nya. Dengan demikian, Allah Swt. akan mengumpulkannya di tempat yang penuh dengan rahmat-Nya kelak. [MNews/YG]
Referensi
1. Nisa Laha Tarikh, Ummu Isra’ Arafah Bayyumi, Aqwam.
2. Suara ‘Aisyiyah.id
