[Resume Bedah Buku] Menggalakkan Kembali Kecintaan Membaca Kaum Muslimin

[Resume Bedah Buku] Menggalakkan Kembali Kecintaan Membaca Kaum Muslimin

Buku: Gila Baca ala Ulama
Penulis resume: Dessy Fatmawati, S.T.

Muslimah News, RESUME — Sudah masyhur dikenal di kalangan kaum muslimin bahwa perintah pertama adalah iqra’ (membaca).

اِقۡرَاۡ بِاسۡمِ رَبِّكَ الَّذِىۡ خَلَقَ‌ۚ

“Bacalah dengan (menyebut) nama Rabb-mu yang menciptakan.” (QS Al-‘Alaq: 1)

اقرأ adalah kata perintah, maksudnya perintah yang pasti dan tegas untuk membaca, motivasi untuk belajar dan mengajar. Membaca adalah aktivitas yang mulia dan merupakan gerbang utama ilmu; dengan membaca, ilmu akan bertambah.

Apresiasi generasi Islam terdahulu terhadap membaca sangat tinggi, berbanding terbalik dengan generasi-generasi sebelum datangnya Islam. Para sahabat mendapati bahwa Rasulullah sangat serius dan memiliki pengorbanan besar untuk mendapatkan Ilmu, maka mereka mengikutinya.

Sebagaimana Ibnu Mas’ud ra., beliau sangat tekun dalam menuntut ilmu. Ia berkata, “Demi Allah, yang tiada sembahan yang berhak disembah selain Dia. Tidak ada satu pun surah Al-Qur’an yang diturunkan melainkan aku mengetahuinya di mana  diturunkan. Tidak ada satu pun ayat Al-Qur’an yang diturunkan, kecuali aku mengetahui kepada siapa diturunkan. Seandainya aku tahu ada orang yang lebih mengetahui Al-Qur’an selain diriku, niscaya akan kukendarai ke sana ( mengunjunginya).”

Contoh lain dari kesungguhan sahabat dalam membaca dan mencari ilmu adalah Abu Hurairah ra.. Nabi saw. menyifatinya sebagai orang yang sangat antusias pada ilmu. Abu Hurairah ra. bertanya kepada Nabi saw. tentang manusia yang paling bahagia dengan syafaatnya. Nabi pun bersabda kepadanya, “Wahai Abu Hurairah, aku yakin tidak ada orang yang lebih dulu menanyakan hadis ini selain dirimu, sebab, aku mengetahui kesungguhanmu dalam menerima hadis.” (Sahih Bukhari)

Gambaran antusiasme dalam membaca dan mencari ilmu tidak hanya ada pada generasi sahabat, ulama sebagai sang pewaris Nabi juga tidak kalah antusias dalam kegiatan membaca dan menimba ilmu. Di antara ulama-ulama yang terkenal dalam kesungguhan membaca dan menuntut ilmu adalah Al-Qamah, Al-Aswad (murid Ibnu Mas’ud ra. di Kuffah).

jika ia mendengar hadis dan ilmu dari guru mereka, rasa ingin tahunya sangat besar sehingga menempuh perjalanan ke Madinah untuk mencari tambahan ilmu lain.

—

Kisah dari ulama Ibnu Taimiyah mampu menjadi tamparan nasihat bagi kaum muslim saat ini. Dikisahkan, beliau tetap membaca buku meski sakit. Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah muridnya Ibnu Taimiyah mengatakan, “Seperti yang saya ketahui, beliau sering menderita sakit kepala dan demam. Saat sakit, beliau menaruh buku di samping kepala. Jika tersadar, beliau membaca buku tersebut. Jika tidak mampu menguasai diri, diletakkannya buku tersebut; meski dokter melarangnya karena bisa menyebabkan lama sembuh.”

Syekh Muhammad Khalil al-Haras berkata, “Ibnu Taimiyah adalah ulama yang berpandangan tajam, luas ilmunya, tidak pernah kenyang menelaah ilmu meski mengetahui banyak hal, mencurahkan jiwa dan keinginannya untuk ilmu, tidak pernah berhenti mengkaji dan menyusun kitab sepanjang hidupnya, baik ketika di Syaa maupun di Mesir, ketika di penjara maupun di rumah.”

Salah satu rahasia peradaban Islam mampu menelurkan generasi-generasi yang memiliki minat yang sangat tinggi pada membaca tidak lepas dari niat, mengetahui ilmu apa yang harus dikuasai, serta dengan metode yang lurus dalam menimba ilmu.

Ibnu Rajab ra. menuturkan, “Ilmu yang harus diperhatikan dan diketahui oleh setiap muslim adalah ilmu-ilmu yang datang dari Allah (Al-Qur’an) dan Rasul-Nya (Hadis), bersungguh – sungguh memahaminya dan membenarkannya. Terkait dengan amaliah, hendaklah mengerahkan seluruh kemampuan untuk mengamalkan semua perintah dan berusaha menjauhi semua larangan. Seluruh cita-citanya tertuju untuk mendapatkan rida Allah Taala, bukan yang lain. Beginilah para sahabat Nabi saw. dan para pengikutnya dalam mencari ilmu yang bermanfaat dari Al-Qur’an dan Sunah.”

Dua metode dalam menimba ilmu adalah pertama, mushafahah, yakni mengambil ilmu dari ahlinya melalui pertemuan langsung sebab inilah metode asli dalam pengambilan ilmu yang dipakai oleh para salaf saleh. Kedua, mengambil ilmu dari buku atau karya tulis karena buku adalah penyimpanan ilmu.

Memang, dalam dunia digital saat ini, media-media pembelajaran tidak lagi terbatas buku fisik. Dengan demikian, kemudahan teknologi hendaknya menjadi pelecut kaum muslim untuk mencapai prestasi generasi terdahulu.

Ulama terdahulu telah memberi salah satu kunci dari keberhasilan mengikat ilmu, yakni menyeimbangkan dan memadukan antara pengambilan ilmu dari buku dan pengambilan dari para ulama. Imam An-Nawawi mengatakan, “Berdiskusi dengan orang yang pandai tentang suatu ilmu selam satu jam lebih bermanfaat daripada menelaah atau menghafal selama berjam-jam, bahkan berhari-hari.”

—

Penuntut ilmu mesti memperhatikan jenis metode membaca, kemudian berusaha untuk mengembangkannya.

Di antara uslub membaca adalah

1) membaca lambat, yakni membaca untuk pengkajian dan pemahaman, misalnya buku-buku usul fikih, fikih, musthalahah, dan semacamnya; dan

2) membaca cepat, misal buku- buku sejarah, biografi, ensiklopedi, ataupun buku-buku pengetahuan umum.

Imam Nawawi berpesan, “Janganlah seseorang  itu meremehkan suatu ilmu yang ia lihat atau ia dengar. Akan tetapi, segeralah mencatat dan menelaahnya. Janganlah seseorang itu menunda-nunda dalam mendapatkan faedah meski ia bisa mendapatkannya nanti setelah satu jam; ini karena sikap menunda-nunda hanyalah penyakit, sedangkan pada waktu yang kedua ada ilmu lain.” Wallahualam. [MNews/Gz]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *