Sa’id bin Zaid, Laki-Laki Mulia yang Doanya Mustajab

Sa’id bin Zaid, Laki-Laki Mulia yang Doanya Mustajab

Penulis: Ummu Nashir N.S.

Muslimah News, KISAH INSPIRATIF — Dari Abdurrahman bin Auf, Rasulullah ﷺ bersabda, “Abu Bakar di surga. Umar di surga. Utsman di surga. Ali di surga. Thalhah (bin Ubaidillah) di surga. Az-Zubair (bin al-Awwam) di surga. Abdurrahman bin Auf di surga. Saad (bin Abil Waqqash) di surga. Sa’id (bin Zaid) di surga dan Abu Ubaidah bin al-Jarrah di surga.” (HR Ahmad dan At-Turmudzi).

Di antara para sahabat Nabi ada sosok yang keimanan, ketakwaan, kesetiaan, dan keberaniannya menjadi inspirasi abadi bagi umat Islam sepanjang masa. Ia adalah Sa’id bin Zaid. Ia berasal dari keluarga Quraisy terpandang, lahir di Makkah pada 593 M atau 22 tahun sebelum peristiwa hijrah. Ia menjadi sahabat yang menapaki jalan perjuangan Islam sejak awal dakwah. Kisahnya menunjukkan iman yang diwujudkan dalam tindakan nyata, mulai dari keberanian di medan perang, kepemimpinan dalam penaklukan kota, hingga doa yang mustajab.

Sa’id bin Zaid adalah salah satu dari sepuluh sahabat Rasul yang dijamin masuk surga. Ini sebagaimana yang tercantum dalam hadis Rasulullah ﷺ. Sa’id bin Zaid memeluk Islam tidak seorang diri, tetapi ia bersyahadat bersama istrinya. Ia juga selalu berada di garis depan dalam perjuangan bersama Rasulullah ﷺ.

Awal Mula Berislam

Ketika Nabi Muhammad ﷺ menyeru orang-orang untuk memeluk Islam, Sa’id bin Zaid segera memenuhi panggilan beliau. Ia menjadi pelopor orang-orang yang beriman kepada Allah dan membenarkan kerasulan beliau. Tidak mengherankan jika Sa’id secepat itu menerima seruan Muhammad ﷺ. Ini karena sesungguhnya ia lahir dan dibesarkan di dalam rumah tangga yang mencela dan mengingkari kepercayaan dan adat istiadat orang-orang Quraisy yang sesat.

Sa’id dididik dalam kamar seorang ayah bernama Zaid bin Amr bin Nufail yang sepanjang hidupnya giat mencari agama yang hak. Meskipun hidup pada masa jahiliah, sang ayah tidak pernah bersujud kepada selain Allah. Di tengah kegelapan jahiliah menjelang wafat, sang ayah berkata, “Ya Allah, jika Engkau memang tidak menghendaki kebaikan ini (agama Islam) untukku, janganlah Engkau halangi anakku (Sa’id) darinya.” Sang ayah yang hanif wafat ketika sedang berlari kepayahan mengejar agama yang hak. Ia tidak tahu harus mengikuti siapa karena pada zaman itu belum ada Rasul yang diutus.

Setelah Sa’id bin Zaid berislam, ia disakiti, dianiaya, dan dipaksa oleh kaumnya supaya kembali kepada agama mereka. Akan tetapi, jangankan mengembalikan Sa’id kepada kepercayaan nenek moyang mereka, sebaliknya Sa’id dan istrinya sanggup mengantarkan seorang laki-laki Quraisy yang paling berbobot, baik fisik maupun intelektualnya untuk berislam. Laki-laki itu adalah Umar bin Khaththab. Sa’id bin Zaid bin Amr bin Nufail membaktikan segenap daya dan tenaga mudanya untuk berkhidmat kepada Islam.

Setia Mendampingi Rasulullah ﷺ

Nama dan nasab laki-laki mulia itu adalah Sa’id bin Zaid bin Amr bin Nufail bin Abdul Uzza al-Adawi. Ia berasal dari kabilah yang sama dengan Umar bin Khaththab ra.. Ia termasuk salah seorang as-sâbiqûn al-awwalûn, yakni orang-orang yang mula-mula masuk Islam. Ia berislam dengan perantara dakwah Abu Bakar ash-Shiddiq ra..

Sa’id bin Zaid menikah dengan Fatimah binti Khaththab ra., adik Umar bin Khaththab. Adapun Umar menikahi saudarinya, yaitu Atikah binti Zaid. Tidak banyak yang mengisahkan tentang Sa’id bin Zaid. Namun yang perlu diketahui tentang sahabat Nabi ini, ia selalu setia kepada Rasullah ﷺ. Kesetiaannya terlihat dari partisipasi aktif dalam peristiwa penting dan peperangan. Ia merupakan salah satu sahabat Rasul yang hampir tidak pernah absen saat berperang melawan musuh. Satu-satunya perang besar yang tidak diikutinya adalah Perang Badar (624 M/2 H). Saat itu, Rasulullah ﷺ menugaskannya bersama Thalhah bin Ubaidillah untuk menelusuri kafilah dagang Quraisy. Meski tidak bertempur langsung, ia tetap menerima bagian rampasan perang. Ini menunjukkan bahwa jihad bisa melalui peran strategis selain pertempuran fisik.

Kemudian Sa’id mengikuti Perang Uhud (625 M/3 H) dan Perang Yarmuk (636 M/15 H) melawan Romawi di bawah komando Khalid bin Walid. Keberanian dan strateginya sangat menentukan kemenangan kaum muslim. Selain itu, Sa’id juga terlibat dalam penaklukan Damaskus (635–636 M/14–15 H), lalu ditunjuk sebagai wali kota. Ini membuktikan kemampuan kepemimpinannya di medan perang dan pemerintahan.

Seorang Sahabat yang Doanya Mustajab

Di antara keutamaan Sa’id bin Zaid adalah ia memiliki doa yang mustajab. Ini menunjukkan kedekatannya dengan Allah Taala. Pada suatu hari, seorang wanita bernama Urwi bin Uwais yang hidup pada awal masa Bani Umayyah memfitnah Sa’id. Saat itu terjadi banjir besar yang menghilangkan tanda batas kepemilikan tanah. Wanita ini menzalimi Sa’id dengan menuduh bahwa Sa’id telah mengambil tanah miliknya. Tuduhan tersebut disebarkannya kepada masyarakat luas hingga terdengar sampai ke telinga gubernur Madinah Marwan bin al-Hakam. Kemudian Marwan mengirim beberapa utusan untuk menyelesaikan sengketa tanah antara Sa’id dan Urwi.

Said yang awalnya hanya diam, mulai angkat bicara karena tidak tahan dengan tuduhan wanita tersebut. Ia berkata, “Banyak orang menuduhku telah menzalimi Urwi binti Uwais. Bagaimana bisa aku menzaliminya, sementara aku pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Barang siapa mengambil sejengkal tanah dengan semena-mena, maka pada Hari Kiamat, ia akan dikalungi (dengan tanah) dari tujuh lapis bumi.'”

Kemudian Sa’id pun berdoa kepada Allah, “Ya Allah, wanita tersebut telah menuduhku menzaliminya. Jika ia telah berbohong atas tuduhannya tersebut, butakanlah matanya. Ceburkanlah ia di sumurnya yang ia sengketakan kepadaku. Tampakkanlah kebenaranku sebagai cahaya bagi kaum muslim bahwa aku tidak menzaliminya.”

Tidak berselang lama, ternyata doa Sa’id bin Zaid dikabulkan Allah Taala. Kedua mata Urwi bin Uwais buta. Sa’id pun bercerita bahwa ia melihat Urwi bin Uwais meraba-raba tembok karena buta. Wanita itu berkata, “Aku terkena doa keburukan yang diucapkan oleh Sa’id.” Ketika sedang berjalan di rumahnya, wanita itu melewati tepi sumur, lalu terjatuh ke dalamnya. Akhirnya sumur menjadi tempat peristirahatan terakhirnya.

Pelajaran Berharga

Dari kehidupan seorang sahabat mulia, Sa’id bin Zaid, kita bisa mengambil banyak pelajaran berharga tentang keimanan, keteguhan, dan ketawakalannya kepada Allah Taala. Meskipun tidak sepopuler para sahabat lainnya, keutamaan Sa’id terletak pada kesederhanaan dan kesetiaannya dalam membela Islam sejak awal. Kesetiaannya mendampingi Rasulullah ﷺ dalam berbagai kesempatan menunjukkan kecintaan Sa’id kepada orang terkasih, manusia paling mulia.

Kecintaan Sa’id kepada Allah dan Rasul-Nya tidak hanya menjadikan ia orang yang gagah berani di medan perang. Akan tetapi, ia adalah orang yang dekat dengan Allah Taala sehingga doanya mudah dikabulkan oleh-Nya, seolah tidak ada penghalang. Kisah doanya terhadap wanita yang memfitnahnya mengajarkan bahwa kezaliman akan berbalik kepada pelakunya dan orang yang teraniaya selalu dilindungi oleh Allah Taala.

Seorang ulama besar, Imam Nawawi, mengomentari kisah Sa’id bin Zaid sebagaimana yang dikutip dari tulisan Sayyid Uthwah. Beliau menyebut Sa’id bin Zaid sebagai orang yang memiliki manqabah (keutamaan) berupa dikabulkannya doa. Beliau menambahkan bahwa mendoakan keburukan dibolehkan jika ditujukan kepada orang yang berbuat zalim dan menghina pemilik kemuliaan.
Demikianlah kisah inspiratif dari seorang sahabat tepercaya Rasul ﷺ, yakni Sa’id bin Zaid bin Amr bin Nufail. Meskipun tidak sepopuler Umar, Utsman, atau Ali, tetapi ia tidak kalah utama di mata Allah dan Rasul-Nya. Sa’id seorang sahabat mulia yang hidup dalam kesederhanaan, tetapi dijamin masuk surga. Ini karena keimanannya yang tulus, pembelaannya terhadap Islam, konsistensinya menjaga kebenaran, dan teristimewa doa-doanya selalu dikabulkan Allah Taala.

Kisah singkat Sa’id bin Zaid ini juga membuktikan besarnya kekuatan jalur langit, yakni berdoa. Hendaklah kita semua mengambil pelajaran agar senantiasa menjadikan Allah sebagai sandaran hidup, serta senantiasa menyertakan doa-doa dalam setiap langkah kita, baik dalam keadaan susah maupun senang. Wallahualam bissawab. [MNews/YG]

Share

One thought on “Sa’id bin Zaid, Laki-Laki Mulia yang Doanya Mustajab”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *