Muslimah News, KISAH INSPIRATIF — Berita kekalahan dan kerugian yang dialami kaum muslim di Prancis telah menggores hati khalifah di Damaskus. Kematian seorang pahlawan yang pemberani, yaitu As-Samh bin Malik al-Khaulani telah mengobarkan api di dadanya untuk segera membalasnya. Ia mengeluarkan perintah agar pasukan tersebut tetap dalam ketaatan mereka kepada Abdurrahman al-Ghafiqi. Kemudian khalifah menyerahkan wilayah Andalusia dan negara-negara yang bertetangga dengannya dari daerah Prancis yang sudah ditaklukkan kepada Abdurrahman al-Ghafiqi, sang gubernur.
Sejak Abdurrahman al-Ghafiqi diberi tugas memimpin wilayah Andalusia, beliau segera membangun kepercayaan diri pasukannya dan membekali perasaan mereka dengan kemuliaan, kekuatan diri, serta kemenangan demi mewujudkan cita-cita agung yang dirintis oleh para panglima Andalusia, sejak Musa bin Nushair, lalu dilanjutkan oleh As-Samh bin Malik al-Khaulani.
Keinginan mereka telah bulat untuk berangkat dari Prancis ke Italia dan Jerman, lalu dari kedua tempat tersebut mereka langsung menuju Konstantinopel. Mereka ingin menjadikan Laut Mediterania sebagai laut kaum muslim dan menyebutnya sebagai Laut Syam sebagai ganti dari Laut Rum.
Namun, Abdurrahman al-Ghafiqi berkeyakinan bahwa untuk menyiapkan perbekalan dalam peperangan yang paling utama adalah memulainya dengan memperbaiki hati para pasukan dan menyucikannya. Ia juga berkeyakinan bahwa tidak ada satu umat pun yang dapat mewujudkan harapannya untuk meraih kemenangan jika benteng pertahanannya retak dan terancam roboh dari dalam.
Oleh karenanya, ia mengelilingi Andalusia dari satu negeri ke negeri lain dan menyuruh para juru dakwahnya menyerukan kepada manusia, “Barang siapa yang terzalimi, baik oleh salah seorang pemimpin, hakim, atau orang lain, maka bawalah urusan itu ke hadapan Amir. Tidak ada perbedaan baginya antara kaum muslim dan orang-orang yang masih terikat perjanjian dengan mereka.”
Kemudian, sang gubernur mulai melihat kepada orang-orang yang mengadukan perkaranya satu per satu. Ia memberikan keadilan bagi orang yang lemah dan orang yang terzalimi, serta mengambil hak atas urusan gereja yang dirampas dan mengembalikan apa yang menjadi hak-hak mereka. Ia menghancurkan bangunan yang dibangun memakai uang korupsi. Ia juga memecat orang-orang yang jelas melakukan pengkhianatan dan penyimpangan, lalu memberikan kedudukan tersebut kepada orang yang kuat, amanah, berpengalaman, dan berakhlak luhur.
Setiap memasuki sebuah negeri, Abdurrahman al-Ghafiqi mengajak orang-orang untuk salat Jumat. Beliau berdiri sebagai khatib dan memberikan semangat untuk melaksanakan jihad. Beliau juga menganjurkan untuk mencari mati syahid, menjanjikan kepada mereka akan rida Allah dan kemenangan dengan pahala di sisi-Nya.
Abdurrahman al-Ghafiqi selalu mengiringi perkataan dan perbuatannya, serta mengukuhkan angan-angan dengan tindakan nyata. Hal pertama yang ia lakukan saat menempati wilayahnya adalah mempersiapkan perlengkapan, menyempurnakan senjata perang, memperbaiki tempat berlindung, membangun benteng pertahanan, dan memperkokoh jembatan. Jembatan terbesar yang ia bangun adalah Jembatan Cordova, di ibu kota Andalusia. Jembatan tersebut dibangun di atas Sungai Cordova yang lebar agar masyarakat dan pasukan perang bisa menyeberang di atasnya. Jembatan ini juga menjaga manusia dari derasnya banjir. Jembatan yang termasuk salah satu keajaiban dunia itu masih ada sampai sekarang dan menjadi kebanggaan warga Spanyol. (Abdurrahman Ra’fat al-Basya, Jejak Perjuangan dan Keteladanan para Tabiin)
Hikmah
Dari ‘Abdullah bin Umar ra., Rasulullah ﷺ bersabda, “Ketahuilah setiap dari kalian adalah seorang pemimpin dan kalian akan dimintai pertanggungjawabannya atas yang dipimpin. Penguasa yang memimpin orang banyak akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Setiap kepala keluarga adalah pemimpin anggota keluarganya dan ia dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Istri adalah pemimpin terhadap keluarga suaminya dan juga anak-anaknya, ia akan dimintai pertanggungjawabannya terhadap mereka. Budak juga seorang pemimpin terhadap harta tuannya dan akan dimintai pertanggungjawaban terhadapnya. Ketahuilah, setiap kalian bertanggung jawab atas yang dipimpinnya.” (HR Bukhari-Muslim).
Hadis ini sangat familier di telinga kaum muslim jika berbicara tentang kepemimpinan. Kisah Abdurrahman al-Ghafiqi sangat mewakili gambaran pemimpin yang kental dengan kepemimpinan Islam. Jabatan gubernur tidak melalaikannya dari tanggung jawabnya sebagai penguasa Andalusia. Berikut ini berapa teladan yang bisa kita petik dari kisahnya.
Pertama, pemimpin itu melayani, bukan dilayani. Tatkala khalifah menunjuk Abdurrahman al-Ghafiqi sebagai Gubernur Andalusia untuk menggantikan As-Samh bin Malik al-Khaulani yang syahid, ia dengan sigap menjalankan tugas-tugas kepemimpinannya dengan amanah. Langkah pertama yang ia lakukan adalah mengukuhkan iman para penduduk Andalusia, termasuk pasukan yang kehilangan semangat setelah mengalami kekalahan menyakitkan di perang Toulouse.
Inilah tugas penting seorang pemimpin. Menguatkan pada saat rakyatnya lemah, memotivasi ketika tentaranya kehilangan semangat, dan mengayomi ketika ada yang tersakiti dan terzalimi oleh ulah pejabat di bawahnya.
Kedua, pemimpin baik hanya lahir dari sistem yang baik. Jika sistem kepemimpinannya sekuler, akan melahirkan pemimpin sekuler. Sebaliknya, jika sistem kepemimpinannya Islam, akan melahirkan pemimpin amanah yang berpegang teguh pada syariat-Nya.
Ketika Abdurrahman diangkat menjadi gubernur, animo masyarakat Andalusia kala itu menyambutnya dengan antusias dan positif. Ini karena Abdurrahman sudah dikenal sebagai sosok yang tegas, cerdas, berwibawa, dan adil sejak sebelum menjadi gubernur. Artinya, ia terdidik dalam lingkungan yang sangat kondusif, yaitu sistem Islam, sehingga tidak sulit menjadikannya sebagai pemimpin dambaan dan pilihan rakyat.
Seorang pemimpin memang sudah seharusnya dipilih karena ia berkapasitas dan berkapabilitas mumpuni, bukan hasil pencitraan atau polesan palsu. Dalam sistem Islam, tidak sulit melahirkan pemimpin berkualitas. Sebabnya, sistem Islam kafah mengakomodasi berbagai aspek yang mendukung lahirnya pemimpin dambaan, yakni sistem politik, ekonomi, pendidikan, pertahanan, dan keamanan yang berjalan sesuai tuntunan Islam.
Ketiga, pemimpin bekerja untuk rakyat, bukan untuk konglomerat, pejabat, apalagi korporat. Pemimpin hadir untuk menyelesaikan berbagai persoalan umat. Jembatan yang dibuat pada masa kepemimpinan Abdurrahman al-Ghafiqi sangat membantu masyarakat. Seorang pemimpin sudah semestinya menggunakan jabatan dan kekuasaannya untuk meringankan beban rakyat dan memberi kemudahan mereka mengakses berbagai kemaslahatan publik, seperti pendidikan, kesehatan, keamanan, dan keadilan hukum.
Demikianlah, Islam tidak pernah kehabisan sosok pemimpin teladan. Penerapan sistem Islam kafah meniscayakan lahirnya individu bertakwa yang kelak akan menjadi generasi emas, berjiwa pemimpin, dan bertanggung jawab. Masihkah kita enggan menerapkan sistem yang sudah terbukti mampu melahirkan pemimpin bertakwa yang kita idamkan selama ini? [MNews/CJ-YG]
