[Pemikiran Politik Islam] Masalah Utama (Bagian 2/2)

[Pemikiran Politik Islam] Masalah Utama (Bagian 2/2)

Penulis: Syekh Abdul Qadim Zallum

Sambungan dari Bagian 1/2

Muslimah News, TELAAH KITAB — Sejak awal, kaum muslim tidak perlu berpikir dan merenung terlalu banyak untuk dapat menyimpulkan bahwa masalah mereka adalah masalah utama yang harus dihadapi. Masalah ini tetap jelas sampai sekarang, sebagaimana jelas bagi setiap orang bahwa mustahil kaum kafir memberikan toleransi bagi kembalinya Islam dalam kehidupan politik, yaitu dalam pemerintahan. Ini akan terjadi sepanjang mereka memiliki kekuatan walau sedikit untuk menyerang umat Islam yang berjuang untuk tujuan tersebut.

Demikian pula, para pengkhianat dan kaum munafik tidak kurang jahatnya daripada majikan mereka, yakni kaum kafir. Mereka akan berbuat apa saja sejauh kemampuan mereka untuk memerangi para mukmin yang hendak mencopot mereka dari posisi-posisi kepemimpinan dalam rangka menegakkan hukum-hukum Allah Swt. dan melindungi kesucian-Nya.

Dengan demikian, mustahil setiap usaha kaum muslim dalam masalah ini akan mencapai keberhasilan, kecuali apabila mereka memahami bahwa masalah ini adalah masalah yang sangat vital. Keberhasilan tidak dapat dicapai tanpa risiko-risiko tertentu. Sesuai kenyataan, selama kaum muslim belum memahami risiko suatu perjuangan atau memahami hakikat aturan-aturan Allah Swt. mengenai masalah ini, maka mereka hanya akan berusaha berjuang dalam masalah-masalah yang bukan merupakan masalah vital, yaitu masalah-masalah umum.

Dengan demikian, risiko yang dihadapi lebih kecil dari masalah hidup dan mati. Harus dipahami bahwa perjuangan untuk menghadapi dan memenangkan suatu masalah utama, seperti penghapusan sistem kufur dan penegakan sistem Khilafah, tidak mungkin dilakukan oleh seseorang. Sekalipun ia telah berusaha sejauh kemampuannya, tetap tidak mungkin, kecuali apabila setiap konsep dan tindakannya dilandasi pemikiran bahwa perjuangan ini merupakan masalah hidup dan mati.

Dengan demikian, kaum muslim, baik secara individu maupun berkelompok, harus terus berjuang dan berpandangan bahwa perjuangan melawan sistem kufur ini merupakan masalah hidup dan mati. Demikianlah sifat alamiah yang dipersyaratkan dalam masalah ini. Sesungguhnya hukum syariat dalam Kitabullah dan Sunah Rasulullah saw. telah menentukan tindakan yang harus dilakukan.

Namun demikian, Rasulullah saw. telah mengajari kita cara menentukan masalah utama yang dihadapi, serta mengambil risiko hidup atau mati dalam setiap masalah utama. Pada saat Allah Swt. mengutus beliau dengan membawa risalah Islam, beliau mengawalinya dengan menyampaikan Islam melalui perjuangan pemikiran (ash-shira’ul fikri), menjadikan kemenangan Islam sebagai masalah utamanya, dan menjadikan masalah tersebut sebagai masalah hidup dan mati.

Diriwayatkan dalam hadis bahwa paman Nabi, yakni Abu Thalib, menceritakan kedatangan kaum Quraisy yang memintanya menghentikan dakwah Rasulullah. Ia berkata kepada Rasulullah saw., “Kaummu telah datang kepadaku dan mengatakan begini dan begitu, jadi selamatkan diriku dan dirimu, dan jangan engkau bebani aku dengan (masalah) yang tidak sanggup aku hadapi.” Kemudian Rasulullah saw. bersabda, “Wahai paman, demi Allah, apabila mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku menghentikan dakwahku, aku tidak akan menghentikannya sampai Allah memberikan kemenangan atau aku mati karenanya.”

Ketika beliau menegakkan negara Islam dan melaksanakan jihad, beliau pun menentukan kemenangan Islam sebagai masalah utama yang dihadapi. Beliau juga menjadikan masalah kemenangan Islam sebagai masalah hidup dan mati.

Diriwayatkan juga bahwa pada saat beliau berkemah di Asafan, dua marhalah dari Makkah, dalam rangka perjalanan umrah menjelang peristiwa Hudaibiyah, seseorang dari Bani Ka’b menjumpai beliau. Rasulullah saw. menanyakan kabar tentang kaum Quraisy. Kemudian, orang tersebut berkata, “Mereka (Quraisy) telah mengetahui perjalanan Anda, dan mereka mempersiapkan diri mereka serta berselubung kulit harimau (menunjukkan kekuatan yang menakutkan). Mereka berkemah di Dzi-Thuwa dan bersumpah kepada Allah bahwa tidak akan membiarkanmu memasuki Makkah selamanya. Pasukan berkuda mereka dipimpin oleh Khalid ibnu al-Walid berada di Kira’ Al-Ghamîm.”

Mendengar laporan tersebut, Rasulullah saw. bersabda, “Celakalah kaum Quraisy. Mereka telah dihancurkan dengan peperangan. Apa ruginya mereka apabila mereka membiarkan masalah antara aku dan suku bangsa Arab lainnya? Apabila mereka (bangsa Arab) membunuhku, lalu apa yang mereka inginkan? Dan apabila Allah memberikan kemenangan atas mereka kepadaku, mereka akan dapat masuk Islam tanpa mengalami kekerasan. Dan apabila mereka tidak mau (masuk Islam), mereka akan memerangiku selagi mereka kuat. Apa yang mereka (Quraisy) pikirkan? Demi Allah, aku akan meneruskan jihad untuk apa yang Allah sampaikan kepadaku sampai Allah memberi kemenangan atau leherku ini terpisah.” (HR Ahmad dari Miswar ibnu Makhramah).

Terpisahnya leher berarti sampai pada kematian. Kemudian beliau melanjutkan perjalanannya sampai ke Hudaibiyah. Dalam kedua masalah tersebut, yaitu menyampaikan dakwah melalui pertarungan pemikiran dan menyampaikan dakwah melalui pedang dan jihad, Rasulullah saw. menentukan masalah yang beliau hadapi. Beliau menjadikan kemenangan Islam sebagai masalah utama.

Dalam kedua kasus tersebut, beliau menyatakan ukuran yang menjadi risiko perjuangan, yaitu hidup dan mati. Berkenaan dengan masalah utama itu, beliau bersabda pada kasus pertama, “Sampai Allah memberikan kemenangan atau aku mati karenanya,” dan pada kasus kedua beliau berkata, “Sampai Allah memberi kemenangan atau leherku ini terpisah.” Andaikan Rasulullah tidak menentukan ukuran perjuangan tersebut dengan risiko hidup atau mati, maka Islam tidak akan menganggap kedua kasus tersebut sebagai masalah utama. Beliau tidak akan mendapatkan kemenangan, baik dalam menyampaikan dakwah dengan pertarungan pemikiran, maupun melalui pedang dan jihad.

Mirip dengan kondisi sekarang, pada saat umat Islam diperintah dengan sistem kufur dan manakala kaum muslim dipimpin oleh kaum kafir dan munafik. Pada kondisi tersebut, apabila kaum muslim tidak memahami bahwa masalah ini merupakan masalah yang vital dan masalah hidup atau mati, maka tidak mungkin mereka meraih kemenangan dalam perjuangannya atau maju ke depan, meski hanya selangkah.

Dengan demikian, kami menyeru kepada seluruh kaum muslim yang saat ini berada di tengah-tengah kubangan kekufuran yang menguasai negeri-negeri kaum muslim untuk bersama-sama berjuang menegakkan Khilafah. Ini adalah metode untuk mengubah negeri-negeri kaum muslim menjadi Dar Islam, menyatukannya dengan negeri-negeri muslim lainnya, serta menyampaikan dakwah ke seluruh dunia, sampai Islam meraih kemenangan.

Kami menyeru kepada seluruh umat Islam untuk mengulangi dengan sepenuh keyakinan dan kesadaran pernyataan Rasulullah saw., “Demi Allah, apabila mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku menghentikan dakwahku, aku tidak akan menghentikannya sampai Allah memberikan kemenangan atau aku mati karenanya.”

Demikian pula sumpah beliau, “Demi Allah, aku akan meneruskan jihad untuk apa yang Allah sampaikan kepadaku, sampai Allah memberi kemenangan atau leherku ini terpisah.” Wallahualam bissawab. [MNews/RY-YG]

Sumber: Syekh Abdul Qadim Zallum, Pemikiran Politik Islam, Upaya Membumikan Politik Sebagai Mainstream Gerakan.

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *