Penulis: Shezan A. Gerung
Muslimah News, DUNIA REMAJA – Sobat sekalian pernah berpikir enggak, rasanya, kok, hal-hal yang menjadi larangan Allah itu bawaannya menyenangkan dan membahagiakan? Saking senangnya, manusia begitu mudah untuk berbuat dosa.
Apalagi pada masa muda. Masa ketika manusia memasuki fase produktifnya. Pada fase ini, siapa pun pengin menjadi pusat perhatian. So, memiliki gebetan seakan menjadi prestasi tersendiri. Hidup hura-hura dan serba bebas pun seolah menjadi standar kebahagiaan.
Sebaliknya, terikat dengan aturan—apalagi syariat Allah—rasanya melelahkan dan membuat hidup makin ribet. Jauh banget bedanya dengan segala hal yang berkaitan dengan kemaksiatan. Kita harus mampu mengontrol dan wawas diri agar enggak doyan berbuat maksiat. Kudu gimana, ya?
Jangan Lelah Berproses
Sobat sekalian, menaati Allah Swt. memang bukan perkara mudah. Banyak halangan dan rintangan yang akan manusia hadapi ketika kita berniat istikamah dalam ketaatan. Sobat sekalian merasakan tidak, begitu mulai mempelajari tetek-bengek syariat mengenai berbagai hal, kesulitan hidup, kok, rasanya makin banyak? Belum lagi teman-teman di sekeliling kita juga mulai menjauh.
Saat hendak berbuat sesuatu, timbangannya selalu halal dan haram. Di tengah kehidupan yang jauh dari agama seperti saat ini, tentu saja ini menjadi tantangan tersendiri. Bukan tidak mungkin saat proses memperbaiki diri dimulai, dalam pikiran kita pun muncul berbagai godaan. “Teman-teman yang lain sibuk hangout, bisa bebas nongkrong, healing sekehendak hati. Lah, saya masih sibuk dengan aturan agama?”
Wah, kalau pikiran kalian sudah digelayuti dengan hal-hal demikian, segera istigfar, lalu buang jauh-jauh pikiran tadi, Sobat. Sesungguhnya setan tidak akan senang melihat manusia berubah menjadi baik. Setan marah saat melihat manusia terikat dan taat dengan segala aturan Sang Pencipta. Pikiran-pikiran tadi tidak lain adalah bisikan setan yang membuat hati dan pikiran kita selalu waswas saat berada di jalan kebenaran.
Agar bisikan-bisikan tadi menjauh, teruslah berproses memperbaiki diri. Belajar dan terus memahami syariat Islam adalah kunci untuk istikamah. Memang, bisa jadi sebagian teman akan menjauhi, tetapi jangan berkecil hati. Mungkin mereka merasa kalau kita enggak seasyik dahulu, tetapi yakinlah ini semua hanya masalah waktu.
Dalam proses ini juga, Sobat sekalian sebisa mungkin harus bisa merangkul mereka yang bisa jadi sebelumnya adalah teman nongkrong. Jangan menjauhi, ya. Sebaliknya, tetap jalin silaturahmi dan mulailah mengajak mereka untuk berpikir mengenai berbagai hal yang menjadi kegelisahan kita. Tujuannya agar kita memiliki keresahan yang sama, juga bisa berproses bareng menjadi pribadi yang lebih baik.
Banyak Godaan
Dalam proses menjadi pribadi yang lebih baik, tentu banyak godaannya. Bahkan, bisa jadi ada yang akhirnya menyerah dan kembali melakukan berbagai perbuatan yang Allah dan Rasul-Nya benci. Daya imunitas setiap manusia pun berbeda-beda.
Itulah sebabnya, Allah memerintahkan kepada hamba-Nya untuk senantiasa berdoa, sebagaimana firman-Nya dalam surah Ali-Imran: 8, “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau, karena sesungguhnya Engkau-lah yang Maha Pemberi (karunia).” Jangan lupa, ya, untuk mengamalkan doa tersebut agar senantiasa Allah jaga kita di jalan kebenaran.
Jika godaan—baik yang tampak, maupun tidak—itu hadir, ingatlah bahwa segala bentuk kemaksiatan itu memang senantiasa tampak indah dalam pandangan manusia. Namun, sejatinya Allah sangat membenci perbuatan tersebut. Allah Swt. berfirman, “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diinginkan, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS Ali-Imran: 14).
Sesungguhnya setan senantiasa menggoda manusia dengan segala cara. Tidak hanya segala hal yang sifatnya tampak, bahkan hati dan niat manusia pun selalu menjadi incaran setan. So, benar jika ada yang mengatakan bahwa istikamah di jalan kebenaran itu sangat berat. Itulah sebabnya para ulama mengatakan bahwa, “Al-istiqomah khoirun min alfi karomah.” Artinya, istikamah lebih baik daripada seribu karamah.
Sobat, jangan lelah berproses meski penuh perjuangan, ya. Menjadi muslim yang istikamah berislam kafah sejatinya seperti menggenggam bara api. So, jangan pernah membandingkan diri dengan pelaku maksiat yang luarnya terlihat bahagia. Yakinlah bahwa kehidupan mereka penuh kegelisahan karena jauh dari fitrah dan syariat-Nya.
Memang, sih, maksiat itu terlihat asyik dan menarik dalam pandangan manusia. Akan tetapi kalau mengingat konsekuensi perbuatan hamba adalah dosa dan pahala, apa masih betah bermaksiat? Dunia ini hanya sementara, Sobat. Segala apa yang ada di dalamnya hanyalah fatamorgana.
Jadi, meski usia kita masih remaja, jangan pernah tertipu dengan gemerlap dunia, ya. Mengapa? Ini karena ajal tidak memilih usia. Kini saatnya kita taat dan istikamah bareng. Yuk! Wallaahualam. [MNews/YG]
