[Nafsiyah] Habit Taat

[Nafsiyah] Habit Taat

Penulis: Ustaz Ismail Yusanto

Muslimah News, NAFSIYAH — Habit (kebiasaan) adalah aktivitas yang dilakukan terus-menerus sehingga menjadi bagian dari kehidupan seseorang. Dipilih atau tidak, habit akan tetap ada dalam diri kita. Jika tidak dipilih, yang akan muncul adalah habit yang buruk, bukan yang baik, seperti ungkapan di atas. Jika engkau tidak menanam bunga, maka di tamanmu, tanpa diminta, akan tumbuh rumput liar. Oleh karena itu, kita harus memilih dan menguasai habit yang baik. Bukan sebaliknya, malah membiarkan habit (buruk) mengendalikan hidup kita.

Seseorang yang memiliki banyak habit baik dalam dirinya bisa dipastikan akan lebih berhasil dalam kehidupannya dibandingkan dengan seseorang yang memiliki sedikit habit baik. Ada ungkapan bagus yang disampaikan oleh Malcom X. Katanya, “Anytime you see someone more successful than you are, they are doing something you aren’t’.

Kita bisa menjadi apa pun atau menguasai keahlian apa pun jika benar-benar menginginkan itu (want to). Caranya dengan membentuk habit pada diri kita. Menjadikan yang luar biasa menjadi kebiasaan.

Respons kita terhadap satu kondisi tertentu, baik berupa pemikiran, perasaan, ataupun perbuatan, sesungguhnya berasal dari habit yang ada pada diri kita. Contohnya, apa yang kita ucapkan sebelum dan sesudah makan atau minum lahir dari kebiasaan. Waktu kita bangun setiap paginya, lalu aktivitas yang dilakukan setelah itu, terbentuk dari kebiasaan. Jika kesuksesan itu tampak dalam public life, maka pasti ada habit tertentu yang dilakukan oleh orang yang sukses itu di dalam private life-nya, yang sangat mungkin tidak diketahui oleh orang lain dalam public life-nya. Semua itu dipengaruhi oleh secret life-nya. Utamanya dalam cara ia berpikir.

Cara berpikir (thoughts) seseorang menentukan kecenderungan, menghasilkan keyakinan, serta mendorong perbuatan dan kebiasaan. Kebiasaan membentuk karakter atau kepribadian. Oleh karenanya, perbedaan cara pikir akan membuat perbedaan tindakan, termasuk perbedaan habit apa yang akan dipilih. Dengan demikian, membangun habit mesti diawali dari membentuk cara berpikir yang baik dan  benar.

Pada mulanya memang habit yang dipilih dipengaruhi oleh cara berpikir. Kemudian, proses pembentukannya ditentukan oleh tindakan, yakni practice (latihan) dan repetition (pengulangan), yang dilakukan dalam rentang waktu tertentu. Practice makes right, repetition makes perfect.

Jalan setapak selalu ditandai dengan tanah yang tidak ditumbuhi rumput. Rumput-rumput liar tumbuh di kiri dan kanan jalan setapak itu. Pernahkah kita bertanya mengapa rumput tidak tumbuh di jalan setapak itu? Sederhana saja, karena jalan itu selalu dilewati. Lagi-lagi repetisi.

Habit menyerupai spiral yang tiada terputus. Setiap repetisi akan memperkuat habit. Habit yang kuat akan menuntut repetisi. Spiral ini akan terus-menerus berkembang tidak terputus jika terus dijaga.

Rumput liar tidak dapat tumbuh di tanah yang selalu diinjak. Menginjak tanah akan membuat jalan setapak, sebagaimana repetisi membentuk habit. Habit seperti spiral, hanya ada dua pilihan di dalamnya, yakni bertambah besar atau bertambah ciut.

++++

Habit berarti pembiasaan. Pembiasaan memerlukan konsistensi untuk terus melakukan hal yang sama pada kurun waktu tertentu. Ada tiga milestone dalam membentuk habit, yakni 30 hari pertama, lalu 3×30 hari dan 10×30 hari. Setelah itu, insyaallah habit yang kita bentuk akan solid.

Di situlah kita bisa mengerti mengapa kita diwajibkan puasa setiap hari selama sebulan penuh saat Ramadan. Mengacu pada lamanya waktu puasa Ramadan itu, maka 1 bulan kiranya adalah batas minimal untuk sebuah habit terbentuk. Sederhananya, untuk membentuk habit baru, maka kita harus melakukan practice dan repetition selama paling sedikit 29 atau 30 hari berturut-turut secara konsisten, tanpa ketinggalan satu hari pun.

Dengan melaksanakan kewajiban puasa selama satu bulan penuh, habit taat mestinya bisa terbentuk. Buktinya, selama Ramadan itu kita bisa meninggalkan yang halal. Kuncinya adalah adanya kemauan. Jika meninggalkan makan, minum, berhubungan suami-istri, dan lainnya yang halal saja bisa kita lakukan, apalagi yang haram. Tentu lebih bisa lagi. Dengan kemauan itu pula, semua kewajiban, bahkan juga yang sunah dengan ringan bisa kita dilaksanakan.

Kemauan taat itulah takwa. Buah terpenting dari puasa. Jelaslah, jika dihayati dengan sungguh-sungguh, puasa Ramadan adalah ibadah yang sangat luar biasa dalam pembentukan habit paling penting yang harus ada dalam hidup kita, yakni habit taat.

Habit taat terwujud dalam kebiasaan melaksanakan yang wajib dan meninggalkan yang haram. Diikuti sebanyak mungkin melakukan yang sunah. Selain yang wajib dan sunah, penting juga untuk memiliki habits memilih yang mubah dan bermanfaat, serta sebisa mungkin menjauhi yang makruh. Tentang pentingnya kebiasaan, dalam hadis riwayat Ath-Thabrani dan Hakim, Nabi saw. berpesan, “Hendaklah kalian menjalankan salat malam karena ia merupakan kebiasaan orang-orang saleh sebelum kalian. Ia merupakan sarana mendekatkan diri kepada Tuhan, pelebur kejelekan, pencegah dosa, dan pengusir penyakit.’’

Nabi saw. menyebut dengan lafaz da’abu ash-shalihin (kebiasaan orang saleh). Jika sudah biasa taat, ketika suatu waktu seseorang melakukan kesalahan, dengan mudah ia segera menyadari kesalahannya dan bertobat, lalu memperbaiki diri.

Motivasi dalam melakukan suatu aktivitas dimulai dari pertanyaan what (apa) dan why (mengapa). Kemudian pertanyaan how memperjelas cara mencapai tujuan. Membentuk habit memerlukan kejelasan terhadap tujuan yang ingin dicapai. Why must I doing this? Mengapa aku mesti melakukan hal ini? Bagi banyak manusia, ancaman kadang menjadi ‘Strong Why’ yang sangat kuat untuk bergerak. Datangkan anjing galak, dijamin Anda akan berlari lebih kencang.

Begitu pula, makin jelas hal yang kita inginkan pada masa depan, maka makin besar pula daya tarik untuk melakukan suatu aktivitas. Oleh karena itu, sering-seringlah berpikir dan merencanakan masa depan. Ini karena, masa depan menentukan aktivitas yang akan kita lakukan sekarang ini, termasuk dalam hal puasa.

Diwajibkan puasa saat Ramadan, seperti disebut Allah dalam Al-Qur’an, yakni agar kita (makin) bertakwa. Takwa sesungguhnya adalah tema terpenting  dalam hidup seorang muslim. Mengapa? Ini karena hanya takwalah ukuran kemuliaan manusia di sisi Allah. Dengan takwa pula, kita bisa berharap mendapat tempat terbaik di surga Allah kelak dan mendapatkan keberkahan selalu dalam hidup kita di dunia yang fana ini.

Oleh karena itu, semestinya takwa ini menjadi pusat orientasi hidup kita dan menjadi arah untuk kita mengerahkan seluruh potensi tenaga, waktu, pikiran, harta benda, kedudukan, bahkan nyawa.

Nasihat pendek Nabi saw. kepada seorang sahabat, “Bertakwalah di manapun engkau berada.” Begitulah pentingnya takwa. Makin kuat kita menyadarinya, makin semangat kita mewujudkan takwa yang sebenar-benarnya.

Tantangannya sekarang terletak pada konsistensi dan keistikamahan kita menjalankan apa yang sudah kita rencanakan. Oleh karena itu, perlu pula kiranya kita mengetahui sikap mental yang diperlukan untuk membentuk habit. Memang sikap mental ini juga adalah bagian dari habit yang tentu juga memerlukan latihan dan pengulangan agar menjadi bagian dari diri kita.

Perbedaan antara orang yang telah melatih habit dan yang tidak, akan terlihat jelas dalam performa mereka. Oleh karenanya, kendalikan habit Anda dan Anda akan mengendalikan kehidupan. Tidak ada pilihan, kendalikan habit atau habit yang akan mengendalikan hidup kita.

Usai kita melaksanakan puasa Ramadan, Nabi saw. menganjurkan untuk puasa syawal, lalu puasa Senin-Kamis, bahkan puasa Dawud. Di situ tampak betapa pentingnya puasa dalam membentuk habit taat. Begitulah agama ini membimbing kita. Tentu agar kita menjadi pribadi saleh yang memiliki habit yang baik. Itulah yang amat diperlukan hari ini di tengah kekacuan kehidupan dunia. Semua itu berawal dari kewajiban puasa Ramadan. [MNews/YG]

Sumber: alwaie[dot]net

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *