[Nafsiyah] Maksimalkan Sisa Usia untuk Ketaatan

[Nafsiyah] Maksimalkan Sisa Usia untuk Ketaatan

Penulis: Ustaz M. Taufik N.T.

Muslimah News, NAFSIYAH — Imam Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah (wafat 187 H) pernah berkata kepada seseorang, “Berapa usiamu?” Orang itu menjawab, “60 tahun.” Al-Fudhail berkata, “Berarti sejak 60 tahun engkau berjalan menuju Tuhanmu dan hampir-hampir engkau akan sampai pada-Nya.”

Mendengar hal itu, orang tersebut berkata, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.”

Al-Fudhail berkata lagi, “Tahukah engkau tafsir dari kalimat yang engkau ucapkan? Engkau mengatakan bahwa engkau adalah hamba milik Allah dan akan kembali kepada-Nya. Barang siapa yang mengetahui bahwa ia adalah hambanya Allah dan akan kembali kepada-Nya, hendaklah ia mengetahui bahwa ia akan dibangkitkan di hadapan Allah kelak. Barang siapa yang tahu bahwa ia akan dibangkitkan, hendaklah ia mengetahui bahwa ia akan ditanya. Barang siapa yang tahu ia akan ditanya, hendaklah ia mempersiapkan jawaban.”

Orang itu bertanya, “Lalu apa jalan keluarnya?” Al-Fudhail menjawab, “Mudah.” “Apa itu?” tanya laki-laki tersebut. Al-Fudhail berkata, “Engkau berbuat baik dalam sisa umurmu, niscaya akan diampuni bagimu semua yang telah lewat. Sebaliknya, apabila engkau berbuat jelek dengan umurmu yang tersisa, engkau akan disiksa karena kejelekan yang telah lalu dan yang akan engkau perbuat dalam sisa umurmu.” (Jâmi`ul Ulum wal Hikam, 2/383, Mu’assasah ar Risalah, Maktabah Syâmilah)

Sungguh banyak sekali perbuatan baik dan sungguh pendek usia manusia. Oleh sebab itu, kita tidak boleh menganggap enteng suatu perbuatan baik. Meskipun demikian, ketika perbuatan baik yang satu berbenturan dengan perbuatan baik yang lain, kita juga dituntut untuk memprioritaskan yang lebih utama dilakukan.

Syarak telah memberi petunjuk kepada kita bahwa kewajiban lebih utama dan paling dicintai Allah daripada yang sunah. Hal yang sunah tentu jauh lebih utama daripada yang mubah (boleh). Dalam hadis qudsi disebutkan, “Dan tidaklah takarub (mendekatkan diri) kepada-Ku, seorang Hamba-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku sukai daripada ia menjalankan kewajibannya. Dan tidak henti-hentinya hamba-Ku mendekatkan dirinya kepada-Ku dengan perbuatan-perbuatan sunah nafilah hingga Aku mencintainya.” (HR Al Bukhari).

Begitu juga di antara berbagai kewajiban, ada kewajiban yang lebih utama. Dengan kewajiban ini, agama ini bisa tegak dan terlaksana. Kewajiban yang tidak sedikit kaum muslim sekarang mengabaikannya. Kewajiban yang apabila kita berdiam diri darinya, maka kemaksiatan berkembang pesat. Kewajiban yang apabila ia tidak tegak, maka ikatan Islam akan lenyap satu ikatan demi satu ikatan, hingga akhirnya salat pun jadi terabaikan di tengah masyarakat. Rasulullah saw. menyatakan hal ini dalam hadis riwayat Imam Ahmad dan Abu Ya’la dengan sanad sahih, “Ikatan-ikatan Islam akan terburai satu demi satu. Setiap kali satu ikatan terburai, orang-orang bergantungan pada ikatan selanjutnya. Yang pertama kali terburai adalah masalah hukum (pemerintahan) dan yang terakhir adalah salat.”

Oleh karena itu, para sahabat menjadikan kewajiban menegakkan sistem pemerintahan Islam, yang di dalam Islam disebut sistem Khilafah/imâmah/imâratul mukminîn sebagai kewajiban terpenting. Bahkan, mereka sampai menunda pemakaman jasad Rasulullah saw. demi tegaknya Khilafah. Imam Ibnu Hajar al Haytamy al Makki Asy Syâfi’i (wafat 974 H) dalam kitabnya As Shawâ’iq Al Muhriqah juz 1 hlm 25 menyatakan, “Ketahuilah juga bahwa sesungguhnya para sahabat ra. telah berijmak (sepakat) bahwa mengangkat imam (Khalifah) setelah zaman kenabian adalah kewajiban, bahkan mereka menjadikannya sebagai kewajiban terpenting.”

Inilah kewajiban yang telah tertunda selama satu abad yang menyebabkan hilangnya keberkahan hidup manusia dan hilangnya ketaatan kepada sebagian besar ketentuan-ketentuan Allah Taala. Oleh karenanya, akan menjadi suatu amal utama jika kita mengisi sisa-sisa umur kita dengan beraktivitas untuk mewujudkannya, tentunya tanpa mengabaikan kewajiban lainnya. Semoga harta dan anak-anak kita yang begitu menyita waktu dan perhatian kita, tidak membuat kita lupa akan tanggung jawab ini.

Allah Swt. berfirman, “Bukanlah harta-harta kalian dan anak-anak kalian yang dapat mendekatkan diri kalian kepada Kami. Akan tetapi, orang-orang yang beriman dan beramal saleh, merekalah yang mendapatkan pahala yang berlipat ganda karena apa yang mereka kerjakan. Dan mereka akan berada di tempat-tempat yang tinggi (surga) dalam keadaan aman.” (QS Saba: 37). Wallahualam. [MNews/YG]

Sumber: mtaufiknt[dot]wordpress[dot]com

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *