[Nafsiyah] Takwa, Kunci Penyelesaian Masalah

[Nafsiyah] Takwa, Kunci Penyelesaian Masalah

Penulis: Ustaz M. Taufik N.T.

Muslimah News, NAFSIYAH — Puasa Ramadan dan ibadah-ibadah yang lain, bahkan hukum pidana dalam Islam, Allah syariatkan untuk membentuk manusia yang bertakwa kepada-Nya.

Allah Swt. berfirman, “Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang sebelummu agar kamu bertakwa.” (QS Al Baqarah: 21).

Juga firman-Nya, “Dan dalam (hukum) qishas itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal supaya kamu bertakwa.” (QS Al Baqarah: 179).

Mengapa ketakwaan begitu penting? Bukankah Allah tidak berhajat kepada siapa pun? Benar, ketakwaan makhluk tidak berguna bagi Allah, tidak pula penting bagi-Nya. Kemuliaan-Nya tidak akan berkurang sedikit pun walau seandainya semua makhluk durhaka kepada-Nya. Namun sesungguhnya ketakwaan itu justru sangat penting bagi manusia itu sendiri. Ini karena Allah telah menjadikan ketakwaan sebagai kunci kemenangan, kejayaan, dan kemuliaan. Ketakwaan juga memberi kelapangan hidup bagi manusia di dunia dan akhirat, baik dalam kehidupan individu, maupun kehidupan berbangsa dan bernegara.

Allah Swt. menegaskan hal ini dalam firman-Nya, “Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Ia akan menjadikan jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS Ath Thalaq: 2—3).

Beratnya problem yang dihadapi dan sulitnya persoalan yang ditemui tidaklah menjadi masalah jika kunci penyelesaian masalah tersebut ada dalam genggaman. Sebaliknya, seringan apa pun masalahnya, jika seseorang kehilangan kunci dan jalan keluar untuk menyelesaikannya, yang ringan tersebut akan terasa berat, bahkan mustahil diselesaikan dengan baik. Dengan ketakwaan, Allah Swt. menjamin akan memberikan jalan keluar dari setiap permasalahan. Mungkin jalan keluar tersebut berat dalam pandangan orang lain, tetapi terasa ringan dan mudah dalam pandangan orang yang bertakwa.

Khalifah Umar bin Abdul Aziz pernah berwasiat kepada sebagian pekerjanya, “Hendaklah engkau bertakwa kepada Allah di mana saja engkau berada. Sesungguhnya takwa kepada Allah adalah persiapan yang paling baik, makar yang paling sempurna, dan kekuatan yang paling dahsyat. … Dan janganlah karena permusuhan seseorang dari manusia menjadikan kalian lebih perhatian kepadanya daripada perhatian kalian terhadap dosa-dosa kalian. Janganlah kalian katakan bahwa musuh-musuh kita lebih jelek keadaannya daripada kita dan mereka tidak akan pernah menang atas kita sekali pun kita banyak dosa. Berapa banyak kaum yang dihinakan oleh musuh-musuhnya yang lebih jelek dari kaum itu karena dosa-dosa kaum tersebut. Mintalah kalian pertolongan kepada Allah atas diri-diri kalian, sebagaimana kalian meminta pertolongan kepada-Nya atas musuh-musuh kalian. …”(Abu Nu’aim, Al Hilyah, juz 5 hlm 303).

Takwa inilah prinsip utama yang harus dipegang oleh seorang muslim saat mengatasi sebuah persoalan. Dalam kapasitas apa pun keberadaan dirinya, baik sebagai rakyat maupun pejabat, sebagai yang dipimpin maupun yang memimpin. Ketakwaan yang bukan hanya ada di pojok-pojok masjid, tetapi ada pada setiap waktu dan di setiap tempat ia berada. Takwa saat beribadah, saat bermuamalah, bahkan saat mengatur urusan rakyat sekali pun. Takwa yang tecermin dengan ketundukan terhadap syariat dalam aspek apa pun.

Ini sebagaimana perkataan Umar bin Abdul Aziz yang dinukil oleh Syekh ‘Abdul Qôdir Al-Jilaniy dalam kitabnya Al Ghun-yah, “Ketakwaan itu bukan sekadar puasa pada siang hari dan qiyam (salat/ibadah) pada malam hari atau seputar itu. Akan tetapi, takwa itu meninggalkan hal yang dilarang Allah dan mengerjakan hal yang difardukan-Nya. Barang siapa yang setelah melakukan itu Allah anugerahkan kebaikan (semangat untuk melakukan yang sunah, serta meninggalkan yang makruh dan syubhat), yang demikian itu adalah kebaikan pada kebaikan.” Allahu A’lam. [MNews/YG]

Sumber: mtaufiknt[dot]wordpress[dot]com

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *