[Nafsiyah] Sabar Membina Umat

[Nafsiyah] Sabar Membina Umat

Muslimah News, NAFSIYAH — Mengajar dan membina umat membutuhkan bergunung-gunung kesabaran. Para pembina harus menghadapi berbagai tingkah pola mad’u (orang yang belajar agama). Ada yang bersikap cuek, merajuk karena perkara tertentu sehingga tidak lagi mendatangi majelis, mudah marah, hingga sering overthinking (memikirkan situasi dan suatu hal secara berulang sampai mengganggu kehidupannya). Ada pula yang insecure (perasaan ragu, cemas, dan kurang percaya diri).

Para pembina bisa jadi juga sudah lelah menunaikan berbagai kewajibannya sebagai seorang anak, istri, dan ibu bagi anak-anak mereka. Namun, telah menjadi kewajiban dan tanggung jawab seorang pembina untuk mengajarkan dan membina para mad’u tentang pemahaman agama dengan sepenuh jiwa. Ini agar mereka menjadi para da’iyah yang siap membantu kebangkitan Islam di tengah umat.

Duhai para pembina, ketika ada perkara yang menyusahkan hati, menyesakkan dada terkait menyelesaikan urusan umat (para mad’u), bersabarlah. Saat hal itu terjadi, dibutuhkan kejernihan pikiran sehingga amarah tidak menguasai diri.

Ingatlah hadis Rasulullah saw., “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik untuknya. Hal itu tidak ada kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila ia mendapatkan kesenangan dan ia pun bersyukur, maka hal itu adalah kebaikan untuknya. Apabila ia tertimpa kesulitan dan ia pun bersabar, maka hal itu juga sebuah kebaikan untuknya.” (HR Muslim).

Para mad’u ialah tanggung jawab pembina (musyrifah). Jika musyrifah mampu bersabar dalam mengajar dan membina tentu akan ada balasan pahala dari Allah Taala. Para mad’u akan mampu terjun ke tengah umat melakukan dakwah, mereka pun menjadi manusia yang taat kepada Rabb-nya. Doa-doa yang selalu mereka panjatkan untuk para pembina adalah harta dan investasi yang tidak ternilai harganya.

Berikut beberapa contoh kesabaran dalam membina umat.

Pertama, sabar mengajarkan syariat Allah Taala. Pembina mengajarkan para mad’u tentang adab, tsaqafah Islam, menghafal Al-Qur’an, hadis, dan sebagainya.

Kedua, sabar menjawab berbagai pertanyaan mad’u. Terkadang berbagai pertanyaan para mad’u hadir ketika pembina sedang menunaikan kewajiban lainnya. Baik sedang mengurus anak, melayani suami, menunaikan amanah dakwah, dan lainnya. Pembina harus siap “diketuk” kapan saja oleh para ma’du untuk mempertanyakan berbagai persoalan kehidupan mereka. Namun, tentunya para mad’u juga harus bersabar menunggu jawaban dari pembina mereka.

Ketiga, sabar menjadi pendengar dan teman yang baik. Curhatan para mad’u yang membutuhkan nasihat dari pembina menjadi bagian dari pembentukan kepribadian mereka. Jadi para pembina jangan ogah-ogahan mendengar dan membersamai perubahan para mad’u agar menjadi lebih baik. 

Keempat, bersabarlah ketika para mad’u belum menunjukkan perubahan ke arah yang lebih baik. Ingatlah, Allah melihat proses, bukan hasil. Hal sekecil apa pun yang dilakukan pembina dalam upaya membina para mad’u akan Allah balas. Senantiasa doakan para mad’u agar mereka menjadi pejuang tangguh nan salihah.

Duhai para pembina, kesetiaan membersamai ilmu meliputi dua fase sabar, yakni sabar saat belajar dan mengajar. Saat belajar perlu sabar, menghafal ilmu, memahami ilmu, dan konsisten hadir dalam majelis ilmu. Begitu pula mengajarkan ilmu membutuhkan kesabaran. Seperti, berjam-jam duduk menyampaikan ilmu kepada umat, memahamkan mereka, dan menjumpai kekurangan para mad’u.

Saat mengajarkan ilmu, berarti memberikan teladan yang baik bagi para mad’u. Para pembina ketika menjadi teladan harus memerhatikan tuntunan Islam yakni janganlah perbuatannya menyelisihi perkataannya, apalagi ia juga seorang da’iyah.

Duhai para pembina, selain sabar, hendaklah lemah lembut dalam memotivasi para mad’u. Hadis Nabi saw., “Sesungguhnya kelembutan tidak menyertai sesuatu kecuali akan menghiasinya, dan tidak hilang dari sesuatu kecuali akan merusaknya.” (HR Ahmad, Muslim, dan Abu Daud).

Firman Allah Taala, “Serulah (manusia) kepada jalan Rabb-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Rabb-mu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS An-Nahl: 125).

Para ulama telah mencontohkan kepada kita, mereka berbicara kepada para penuntut ilmu dengan perkataan yang bagus, tawaduk, mencintai para penuntut ilmu, serta bermuamalah dengan baik kepada mereka.

Demikian pula dengan para pelajar, hendaklah mencintai para pembina, senang bersama mereka, menghormati dan memuliakan para pembinanya, serta mengambil faedah dari mereka. Seorang pembina yang bersabar membina para mad’u tentu akan meraih kebaikan bukan hanya di dunia, juga di akhirat.

Duhai para pembina, hendaklah memiliki tujuan ketika membentuk para mad’u agar menjadi seperti para sahabat dalam perkara akidah dan memahami Al-Qur’an dan sunah. Bimbing para mad’u agar selalu taat kepada Allah Taala dan Rasul-Nya. Bimbing juga mereka agar menjadi orang yang zuhud terhadap dunia dan antusias dengan akhirat.

Tanamkan pada para mad’u agar memiliki sikap mau berkorban dalam meraih rida Allah Taala. Selain itu, motivasi para mad’u agar senantiasa memiliki semangat membela agama dan ajaran Rasulullah saw.. Sungguh tidak mudah membina umat dengan Islam dan mengajarkan mereka tentang cinta hakiki kepada Allah dan Rasul-Nya. Terkadang para pembina terluka, kecewa, dan menjatuhkan air mata.

Namun, yakinlah, Allah akan membalas segalanya dengan pahala ketika pembina bersabar. Biarlah lelah, tetapi lelah lillah (karena Allah) akan berbuah surga. Perjuangan untuk mengembalikan kehidupan Islam memang membutuhkan kesabaran.

Imam Syafi’i mengatakan, “Puncak kebaikan ialah kebenaran. Betapa banyak orang yang berjalan di atas kebenaran, belum tentu bersabar. Orang yang bersabar hanya ada pada orang beriman.” Masyaallah. Wallahualam bissawab. [MNews/Rndy-YG]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *