Ketika Kegalauan Menghampiri Keluarga Pengemban Dakwah, Bagaimana Harus Bersikap?

Ketika Kegalauan Menghampiri Keluarga Pengemban Dakwah, Bagaimana Harus Bersikap?

Penulis: Najmah Saiidah

Muslimah News, KELUARGA — Sistem kehidupan sekuler kapitalisme yang tengah mencengkeram negeri-negeri Islam saat ini, memang sangat berpengaruh kepada kehidupan keluarga muslim, terlebih keluarga pengemban dakwah. Banyak ujian dan cobaan yang melingkupinya. Abainya negara terhadap urusan rakyatnya, menjadikan rakyat harus bersusah payah agar kehidupan keluarganya bisa berjalan secara layak. Kebutuhan pokok harus dicari sendiri dengan sekuat tenaga, kesehatan dan pendidikan yang berkualitas sangatlah mahal. Demikian halnya keamanan, negara benar-benar angkat tangan dan tidak pernah berpihak pada rakyat.

Wajar jika akhirnya keluarga pengemban dakwah merasakan kehidupan yang serba sempit. Ketika anak-anak beranjak besar, kebutuhan makin banyak. Biaya pendidikan anak-anak makin lama makin mahal. Setiap orang tua menginginkan anaknya bersekolah di tempat yang aman bagi kebaikan agama dan tumbuh kembangnya. Terkadang kegalauan melanda, di satu sisi paham benar bahwa dakwah merupakan kewajiban yang harus ditunaikan. Bahkan, dakwah harus menjadi pilihan hidup dan mendapat prioritas tinggi. Namun, di sisi lain harus memenuhi seluruh kebutuhan hidup keluarga.

Ketika Kegalauan Itu Datang

Tidak dimungkiri, seiring berjalannya waktu terkadang kegalauan datang. Menyadari bahwa dakwah harus menjadi poros dan pilihan hidup, tetapi di sisi lain juga dituntut untuk mencari penghasilan karena beban hidup makin berat. Selain itu, gempuran propaganda konsumerisme dan gaya hidup begitu hebat. Tentu saja ini bukan hal mudah yang harus dihadapi oleh keluarga pengemban dakwah.

Sesungguhnya, semua ini berpulang kembali kepada prinsip hidup yang ditanamkan kepada keluarga kita. Kita pahami bahwa setiap orang pasti mempunyai masalah dengan kadar dan tingkatan yang berbeda-beda dan siapa pun pasti akan mengalaminya. Yang terpenting adalah cara bijak menyikapi, menghadapi, serta menyelesaikan permasalahan tersebut.

Tentu kita ingat peristiwa yang terjadi pada Rasulullah saw. ketika mendapatkan wahyu pertama, yakni surah Al-Alaq. Beliau langsung menyatakan kepada istrinya, Khadijah ra., “La rahata ba’da al-yawma, ya Khadijah. (Tidak ada lagi waktu berleha-leha setelah hari ini, wahai Khadijah).” Dalam riwayat lain dinyatakan, “Qad dha’a waqtu an-nawm, ya Khadijah. (Waktu tidur telah hilang, wahai Khadijah).” Ini menunjukkan, bahwa prioritas dakwah telah menjadi prioritas hidup Nabi saw. hingga menyita seluruh waktu beliau.

Dari peristiwa ini, sesungguhnya Rasulullah saw. mengajarkan bahwa ketika telah menentukan pilihan hidup untuk berdakwah dan akhirat menjadi orientasi hidup kita, maka setiap konsekuensi yang menghampiri harus bisa disikapi dengan benar dan dituntut adanya pengorbanan di dalamnya. Misalnya, kadang kita mengalami kekurangan. Sebenarnya tidak ada masalah, asal kita bisa menyikapinya dengan benar. Kita tidak mengeluh, tidak meminjam kepada orang lain tanpa ada kepastian waktu membayarnya, dan tidak meminta-minta atau iri dengan nikmat yang Allah berikan kepada mereka yang berkecukupan.

Pada saat yang sama, kita terus berusaha untuk bisa bertahan hidup dengan kedua tangan dan kaki kita sendiri, serta mengorbankan waktu dan tenaga yang kita miliki. Dengan cara seperti itu, Allah pasti akan memuliakan kita, meski secara materi kita kekurangan. Sabda Rasulullah saw., “Siapa saja yang berusaha menjaga kehormatan dirinya dengan tidak meminta-minta, maka Allah akan memuliakannya.” Yang harus diingat adalah ketika Allah menguji dari sisi harta, jangan sampai di saat yang sama kita tidak mempunyai harga diri akibat salah menyikapi pilihan hidup. Naudzubillaah.

Bagaimana Keluarga Pengemban Dakwah Seharusnya Bersikap?

Tidak diingkari, terkadang ujian atau godaan datang menghampiri keluarga pengemban dakwah. Hal ini wajar saja, tetapi fokuslah pada cara kita menyikapinya. Bukan hal yang mudah, tetapi memang harus disikapi dengan baik. Semisal tuntutan keluarga atau kekhawatiran masa depan anak-anak kita di kemudian hari karena biaya pendidikan makin tinggi jenjangnya makin mahal. Lalu, bagaimana keluarga muslim mengatasi kegalauan ini?

1. Menjadikan takwa sebagai fondasi.

Setiap keluarga muslim harus menjadikan takwa sebagai pijakan menjalani kehidupan. Takwa adalah mengerjakan ketaatan kepada Allah Swt. berdasarkan cahaya-Nya dengan mengharap pahala-Nya dan meninggalkan kemaksiatan kepada Allah berdasarkan cahaya-Nya karena takut terhadap azab-Nya.” (Tafsîr Ibnu Katsîr, I/2440).

Ketakwaan merupakan benteng yang akan melindungi keluarga kita dari jebakan sistem kapitalisme yang merusak. Dengan ketakwaan, kita akan selalu menjadikan syariat Islam sebagai standar sehingga solusi setiap permasalahan yang dihadapi keluarga tidak akan diambil selain dari ketentuan Islam. Semua tawaran solusi yang bertentangan dengan Islam pasti akan dilawan dan ditinggalkan, sekalipun dipenuhi iming-iming menggiurkan. Allah Swt. berfirman,

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا

“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya dipermudah urusannya.” (QS Ath-Thalaq: 4).

Landasan takwa juga akan menjaga visi dan misi keluarga. Sebabnya, takwa akan menjaga idrak shilah billah (hubungan dengan Allah Swt., Sang Khalik) sehingga keluarga akan terhindar dari kegalauan. Sebaliknya, keluarga pengemban dakwah senantiasa fokus mengejar rida Allah Swt. dalam setiap langkahnya.

2. Yakin bahwa rezeki di tangan Allah.

Keluarga pengemban dakwah harus memiliki keyakinan, bahwa rezeki ada di tangan Allah. Semuanya sudah diatur dan dijamin oleh Allah Swt. dan tidak akan pernah tertukar. Firman Allah,

وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ وَلَكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ

“Dan jika Allah melapangkan rezeki hamba-hamba-Nya, tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya, Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya, lagi Maha Melihat.” (QS Asy-Syuraa: 27).

Yakinlah, kita tidak akan dipanggil oleh Allah sebelum rezeki kita disempurnakan Allah. Kita juga harus yakin, Allah memberikan anugerah berbeda-beda kepada hamba-Nya, sesuai dengan kehendak-Nya. Keyakinan kepada Allah inilah yang akan menuntun kita bersikap dan membuat bisa bertahan.

3. Bersabar.

Sebagai seorang muslim, kita harus terus berusaha sekuat tenaga menempuh cara yang halal hingga datangnya rezeki kepada keluarga kita, selebihnya serahkan kepada Allah Taala. Kita tetap harus bersabar terhadap qadaAllah. Adakalanya, kita kurang bersabar sehingga memaksakan diri. Akibatnya, kita terjerumus kepada sikap yang salah, termasuk dalam mengatasi persoalan yang dihadapi. Ketika belum mempunyai rumah, tidak punya kendaraan atau berkeinginan untuk memasukkan anak ke sekolah berkualitas, kadang kita mengambil jalan pintas dengan alasan terpaksa, padahal saat itu kita belum mampu. Di sinilah sesungguhnya dibutuhkan kesabaran dan kesungguhan dalam mengatur masalah kita.

Bersabarlah, baik saat melakukan ketaatan maupun saat meninggalkan kemaksiatan. Ini adalah kunci kemenangan. Sejatinya, kemenangan bukan dari kita, tetapi dari Allah. Allah berfirman,

وَمَا جَعَلَهُ اللّٰهُ اِلَّا بُشْرٰى لَكُمْ وَلِتَطْمَىِٕنَّ قُلُوْبُكُمْ بِهٖ ۗ وَمَا النَّصْرُ اِلَّا مِنْ عِنْدِ اللّٰهِ الْعَزِيْزِ الْحَكِيْمِۙ

“Dan Allah tidak menjadikannya (pemberian bala-bantuan itu) melainkan sebagai kabar gembira bagi (kemenangan)mu, dan agar hatimu tenang karenanya. Dan tidak ada kemenangan itu, selain dari Allah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.” (QS Ali-Imran: 126).

Allah memberikan kemenangan kepada umat Islam karena ketaatannya, bukan karena jumlah, harta atau yang lainnya. Ketaatan yang akan mendatangkan pertolongan-Nya hanya bisa diwujudkan dengan kesabaran. Ketika pengemban dakwah tetap istikamah berdakwah, menebar hidayah, meski diuji berbagai ujian dan cobaan, maka Allah akan naikkan derajatnya. Dengan demikian, sabar melakukan ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan adalah kunci datangnya pertolongan Allah.

4. Menempuh as-sababiyah dengan benar.

Sesungguhnya, upaya menjalani as-sababiyah atau kaidah kausalitas bagi setiap muslim merupakan kewajiban yang telah ditentukan oleh Allah sebagaimana kewajiban-kewajiban yang lain. Sebagaimana digambarkan dalam hadis Rasulullah saw., ada seorang laki-laki yang hendak meninggakan untanya datang kepada Nabi. Ia berkata, “Aku akan membiarkan untaku, lalu aku akan bertawakal kepada Allah.” Namun, Nabi saw. bersabda, “Ikatlah untamu dan bertawakkalah kepada Allah.” Hadis tersebut mengandung shighat amr pada kata i’qilha (ikatlah). Berarti, terdapat tuntutan yang pasti untuk mengerjakan sesuatu. Dapat dipahami dari topik hadis ini bahwa terdapat kewajiban untuk melakukan hukum sebab akibat bersama kewajiban bertawakal. 

As-sababiyah adalah upaya untuk mengaitkan sebab-sebab fisik dengan akibat-akibatnya yang juga bersifat fisik dalam rangka mencapai target dan tujuan tertentu. Upaya ini dilakukan dengan cara mengetahui seluruh sebab yang bisa menghantarkan pada tercapainya tujuan serta mengaitkannya dengan seluruh akibat secara benar. Inilah yang harus dilakukan oleh keluarga pengemban dakwah, mempersiapkan dan melaksanakan berbagai upaya yang mungkin bisa dilakukan untuk mencapai tujuan, disertai tawakal dalam setiap langkahnya. Dengan menempuh jalan ini, maka ruh perjuangan akan selalu ada dalam setiap gerak langkah keluarga pengemban dakwah. Selalu berusaha maksimal, akan tetapi tetap menyerahkan sepenuhnya kepada Allah terkait hasilnya.

5. Menyelami kehidupan dakwah Rasulullah, para sahabat, serta keluarganya.

Perjalanan kehidupan dakwah Rasulullah saw. dan para sahabat, serta orang-orang saleh beserta keluarganya sudah seharusnya selalu menginspirasi keluarga pengemban dakwah. Dengan membaca buku-buku sirah atau kisah-kisah kehidupan dakwah para sahabat, kita akan bisa merasakan onak dan duri menghampiri kehidupan dakwah mereka. Meski demikian, mereka mampu melampauinya dengan baik.

Kita akan mendapati luar biasanya perjuangan mereka menyebarkan Islam dan membina umat. Kita bisa mengambil pelajaran dari kehidupan dakwah mereka sekaligus menginsyafi sikap kita. Betapa manusia terbaik seperti mereka kehidupannya begitu sederhana, bersahaja, tetapi jangan ditanya kedudukan mereka di mata Allah Taala. Masyaallah.

Selain itu, kita bisa menyelami nasihat ulama atau kata-kata penuh hikmah, semisal, “Musibatun qad wajaba ajruha khayrun min ni’matin la yu’adda syukruha “. (Musibah yang pahalanya sudah pasti lebih baik ketimbang nikmat yang tidak disyukuri).

Sudah seharusnya disadari bahwa nasib buruk yang dialami, justru lebih baik. Ini karena pahalanya akan mengalir kepada kita. Kita pun tidak akan ditanya tentang musibah itu. Sebaliknya, nikmat yang diterima, justru belum tentu bisa menyelamatkan kita karena itu akan dipersoalkan oleh Allah Taala.

6. Bergabung dengan kelompok dakwah.

Amanah mengemban dakwah mulia ini tidak akan bisa dilakukan secara individual, tetapi harus dipikul secara berjemaah. Mereka adalah orang-orang yang terbina dengan Islam, kader-kader dakwah yang memiliki pola sikap dan pola pikir yang mumpuni. Tugas ini tidak bisa dipikul oleh orang-orang sembarangan. Sudah seharusnya kita terus membina diri dan melayakkan diri untuk menjadi bagian dari perjuangan ini.

Sudah seharusnya kita bersyukur berada dalam sebuah jemaah dakwah. Selain dibina dengan pemahaman Islam, kita pun selalu dijaga dalam melaksanakan hukum syarak. Amar makruf nahi mungkar berjalan dengan sangat baik. Oleh karenanya, ketika berada di dalam jemaah, kita akan terjaga dari kegalauan ini. Selalu ada penguat, yaitu pemahaman kita dan juga saudara-saudara sesama anggota jemaah yang selalu menasihati dan siap menguatkan kita.

Khatimah

Benar, bahwa kegalauan ini wajar terjadi ketika kita hidup dalam cengkeraman sistem rusak saat ini. Namun, kita tidak boleh tinggal diam, bahkan terjebak di dalamnya. Kita harus melawannya dan terus berupaya sekuat tenaga menjauhkannya dari kehidupan keluarga pengemban dakwah. Hal ini hanya akan bisa terwujud jika kita terus istikamah menjalankan aturan-aturan Allah dan makin gencar mendakwahkan Islam di tengah umat hingga Islam kafah tegak di dunia ini dalam bingkai Khilafah.

Oleh karena itu, keluarga muslim harus bersatu, bergandengan tangan, dan melangkah bersama. Terus melakukan perjuangan bersama untuk tegaknya kembali Khilafah Islamiah. Perisai umat yang telah terbukti selama belasan abad lamanya mampu menjaga umat Islam, bahkan umat manusia dalam kesejahteraan dan keberkahan, serta terhindar dari malapetaka. Wallahualam bissawab. [MNews/YG]

Share

2 thoughts on “Ketika Kegalauan Menghampiri Keluarga Pengemban Dakwah, Bagaimana Harus Bersikap?”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *