Penulis: Chusnatul Jannah
Muslimah News, KISAH INSPIRATIF — Shuhaib dilahirkan dalam gelimang kemewahan. Ayahnya menjadi hakim dan walikota Ubullah yang berada di bawah kekuasaan Kisra. Keluarganya adalah orang-orang Arab yang pindah ke Irak jauh sebelum Islam datang.
Al-Ubullah atau orang Yunani sebut sebagai Apologou dahulunya adalah kota pelabuhan yang sekarang ada di ujung Teluk Persia, di timur Kota Basra, Irak. Pelabuhan ini adalah pelabuhan utama yang berfungsi untuk perdagangan antara Irak dengan India.
Suatu ketika, negeri itu menjadi sasaran orang-orang Romawi yang datang menyerang dan menawan sejumlah penduduk, termasuk Shuhaib bin Sinan. Ia dijual oleh saudagar-saudagar budak belian. Perkelanaannya yang panjang pun berakhir di Makkah, yakni setelah menghabiskan masa kanak-kanak dan permulaan masa remajanya di Romawi. Bahkan, gaya bicara dan dialeknya menyerupai orang Romawi.
Keislaman Shuhaib
Majikan Shuhaib tertarik dengan kecerdasan, keuletan, dan kejujurannya. Shuhaib pun merdeka karena kebaikan majikannya. Ia diberi kesempatan berdagang bersama majikannya. Kisah Shuhaib mengenal Islam bermula dari penuturan Ammar bin Yasir.
“Aku berjumpa dengan Shuhaib bin Sinan di depan pintu rumah Arqam, yaitu ketika Rasulullah saw. sedang berada di dalamnya.
‘Hendak ke mana kamu?’ tanyaku kepadanya. ‘Kamu sendiri hendak ke mana?” jawab Shuhaib. ‘Aku hendak menjumpai Muhammad saw. untuk mendengarkan yang beliau katakan,’ ujar Ammar. Lalu Shuhaib pun menjawab bahwa ia juga menginginkan hal itu.
Kami pun masuk menemui Rasulullah saw.. Beliau menawarkan Islam kepada kami dam kami pun menerimanya. Kami tinggal di sana hingga petang dan setelah itu kami meninggalkan tempat itu secara sembunyi-sembunyi.”
Demikianlah, rumah Arqam menjadi saksi bisu atas masuk Islamnya Shuhaib. Ia mengetahui dengan benar cahaya dan petunjuk yang datang bersama kenabian Rasul. Tekad iman membuatnya tidak gentar, meski bahaya menantang.
Mendatangi rumah Arqam yang lebarnya tidak lebih dari satu kaki, pada hakikatnya adalah menghadapi bahaya besar. Apalagi bagi fakir miskin, budak belian, dan perantau, mendatangi rumah Arqam itu berarti suatu pengorbanan yang melampaui kemampuan yang lazim bagi manusia kebanyakan.
Shuhaib adalah pendatang atau anak rantau, sedangkan sahabat yang berjumpa dengannya di ambang pintu rumah Arqam ialah Ammar bin Yasir, seorang yang miskin. Namun, keduanya telah memberi keteladanan bahwa kekuatan iman tidak akan mampu menghalau tekad yang besar memeluk agama yang benar.
Memilih Rasulullah Ketimbang Harta
Ketika Rasulullah saw. hendak berhijrah, Shuhaib ikut serta. Rencananya, Shuhaib akan menjadi orang ketiga yang akan berangkat ke Madinah setelah Rasulullah dan Abu Bakar. Namun, orang-orang Quraisy telah mengetahui rencana tersebut. Mereka mengatur segala persiapan guna menggagalkannya.
Ketika hijrah akan dilakukan, pasukan Quraisy menyerbu. Malang nasib Shuhaib. Ia masuk perangkap dan tertawan. Akibatnya, kepergian Shuhaib ke Madinah tertunda, sedangkan para sahabat yang lain bisa meloloskan diri.
Saat orang-orang Quraisy lengah, Shuhaib langsung naik ke punggung unta dan memacu sekencang-kencangnya menuju gurun yang luas. Tentara Quraisy segera memburu dan hampir berhasil menyusulnya. Tiba-tiba Shuhaib berhenti dan berteriak:
“Hai orang-orang Quraisy, kalian mengetahui bahwa aku adalah ahli panah yang paling mahir. Demi Allah, kalian tidak akan berhasil mendekatiku sebelum kulepaskan semua anak panah yang berada dalam kantong ini. Setelah itu aku akan menggunakan pedang untuk menebas kalian sampai senjata di tangan ini habis semua. Nah, majulah ke sini kalau kalian berani! Namun, kalau kalian setuju, aku akan tunjukkan tempat penyimpanan harta benda milikku asal kalian membiarkan aku pergi.”
Ibnu Mardaweh meriwayatkan dari Utsman an-Nahdiy dari Shuhaib bahwa pasukan Quraisy saat itu berkata, “Hai Shuhaib, dahulu kamu datang kepada kami tanpa harta. Sekarang kamu hendak pergi hijrah sambil membawa pergi hartamu? Hal ini tidak boleh terjadi.”
“Apakah kalian menerima tawaranku?”
Tentara Quraisy akhirnya tertarik dan sepakat untuk melepaskan Shuhaib sekaligus menerima imbalan harta. Reputasi Shuhaib sebagai orang jujur selama ini telah membuat tentara Quraisy itu percaya bahwa Shuhaib tidak akan berbohong.
Setelah kaum Quraisy balik arah, Shuhaib melanjutkan perjalanan seorang diri hingga menyusul Rasulullah yang sedang berada di Quba’.
Waktu itu Rasulullah saw. sedang duduk dikelilingi oleh beberapa orang sahabat dan tanpa terduga sebelumnya, Shuhaib datang dan mengucap salam. Saat Rasulullah melihatnya, beliau berseru dengan gembira, “Sungguh menguntungkan jual beli Abu Yahya. Betapa menguntungkan jual belinya.” Ketika itulah Allah menurunkan ayat-Nya yang mulia, “Dan di antara manusia ada yang mengorbankan dirinya untuk mencari keridaan Allah. Dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hambaNya.” (QS Al-Baqarah: 207).
Shuhaib telah membeli jiwanya yang beriman itu dengan segala kekayaannya. Kecintaannya kepada Rasulullah lebih ia sukai dibanding harta benda yang ia miliki.
Pendamping Setia
Setelah hijrah, Shuhaib menjadi pendamping setia Rasulullah. Ia dikenal berani dan andal menggunakan lembing dan panah.
Shuhaib pernah berkata, “Tidak ada sesuatu peperangan yang dilakukan Rasulullah dengan pihak lain yang aku tidak ada di sampingnya. Tidak pernah suatu perjanjian yang dibuat Rasulullah dengan pihak lain yang aku tidak ada di sampingnya. Tidak pernah suatu angkatan perang yang disiapkan oleh Rasulullah untuk pergi bertempur yang aku tidak ada di dalamnya. Tidak ada sesuatu peperangan yang sedang berkecamuk yang aku tidak ada di kanan kiri baginda. Tidak pernah terjadi sesuatu persiapan untuk mengirim bantuan yang aku tidak hadir di tempat itu. Pendek kata, aku adalah orang yang berdiri di antara musuh dan Rasulullah.”
Setelah Rasulullah wafat, Shuhaib menyumbangkan baktinya kepada Abu Bakar dan Umar bin Khaththab saat keduanya menjadi khalifah. Pada waktu Umar ditikam dari belakang saat memimpin salat subuh, Shuhaib langsung ditunjuk sebagai pengganti imam.
Kata Umar, “Salatlah kalian bersama Shuhaib.” Padahal, saat itu kaum muslim belum memutuskan siapakah yang bakal menggantikan Umar sebagai khalifah.
Selanjutnya, Umar berkata, “Jangan kalian takut kepada Shuhaib karena ia seorang maula (hamba yang dimerdekakan). Ia tidak akan memperebutkan jabatan khalifah ini.”
Peristiwa ini melengkapi kesempurnaan kesalehan seorang Shuhaib bin Sinan. Tidak ada yang lebih indah dan membahagiakan selain menyerahkan loyalitasnya kepada Rasulullah saw., Islam, dan kaum muslim. [MNews/Ruh]
*Disarikan dari berbagai sumber
