Penulis: Shezan A. Gerung
Muslimah News, DUNIA REMAJA – Sobat muslimah, kalian pasti sudah sering dong mendengar tentang gerakan feminisme dan emansipasinya? Sebagai satu paham, feminisme banyak melahirkan pemikiran, salah satunya tentang emansipasi. Emansipasi adalah upaya para feminis untuk mendapatkan persamaan hak bagi kaum hawa.
Ya, emansipasi memang erat hubungannya dengan perempuan. Emansipasi perempuan dihubungkan dengan proses persamaan hak antara laki-laki dan perempuan.
Katanya, sih, usaha menuntut hak ini dilakukan karena adanya ketimpangan hak dan kewajiban antara laki-laki dan perempuan akibat pengaruh budaya patriarki yang eksis di Indonesia. What?
Apa pula budaya patriarki itu? Hem, budaya patriarki itu adalah budaya yang menempatkan posisi perempuan di bawah laki-laki, khususnya dalam memperoleh hak.
Dalam beberapa kondisi, perempuan menjadi pihak yang tertindas dan masyarakat kelas dua. Inilah yang mendasari para aktivis perempuan gencar menggaungkan gerakan emansipasi.
Feminis menganggap bahwa perempuan tidak memiliki kebebasan untuk melakukan aktivitas yang lebih kompleks di luar rumah. Parahnya, feminis getol banget menyuarakan penentangannya terhadap beberapa hukum Islam yang katanya menindas kaum perempuan. Gila! Menggugat hukum Allah?
Btw, benar tidak, sih, perempuan tuh tertindas oleh kaum laki-laki? Benar tidak perempuan aktivitasnya di rumah doang? Benarkah hukum Islam menindas perempuan?
Salah Kaprah Feminisme
Sobat muslimah, sesungguhnya Allah menciptakan laki-laki maupun perempuan dengan potensinya masing-masing. Kaum perempuan memiliki sifat lemah lembut dan tabiatnya pengin dilindungi. Sedangkan laki-laki, sifatnya cenderung keras dan memiliki karakter sebagai pelindung.
Potensi keduanya berjalan secara alami, apa adanya, dan sudah demikian adanya sejak lahir. Tidak ada niat para laki-laki dengan potensi yang ada pada mereka untuk menindas kaum perempuan. Lagipula, kebanyakan kekerasan yang perempuan alami penyebabnya banyak.
Contohnya, tingginya kasus pelecehan seksual pada kaum hawa. Banyak faktor yang bisa menyebabkan pelecehan ini. Bisa jadi dari pergaulan yang sudah kadung bebas, kemuliaan kaum perempuan yang sudah tergadaikan, dan beberapa faktor lainnya.
Jadi, kurang tepat jika ada yang mengatakan bahwa potensi fisik yang ada pada kaum laki-laki menjadi sebab ketertindasan perempuan. Belum lagi kesalahan kaum feminis yang menganggap bahwa ketertindasan yang perempuan alami karena lemahnya kondisi ekonomi kaum perempuan.
Menurut feminis, lemahnya ekonomi perempuan menjadikan mereka tertindas dan mengalami diskriminasi di tengah-tengah masyarakat. Dalam masalah pengambilan kebijakan pun, menurut feminis, kaum perempuan kurang terlibat. Walhasil, salah satu yang menjadi program feminisme adalah agar kaum perempuan dapat berbondong-bondong masuk ke ranah publik dan bangga dengan kemandirian ekonomi yang mereka miliki.
Sayangnya, di tengah superioritas ekonomi yang perempuan miliki, jabatan yang sudah mentereng, berpengaruh pada pengambilan kebijakan, muncul pertanyaan mengenai konsep emansipasi perempuan. Ke mana, sih, arah perjuangan mereka sebenarnya?
Faktanya, di tengah keberhasilan dan kemandirian ekonomi para perempuan, kondisi keluarga malah terbengkalai. Angka perceraian kian meningkat, pendidikan anak jadinya tergadai. Meski punya ibu, si anak lebih dekat ke asisten rumah tangga atau baby sitter.
Perempuan dalam Islam
Jadi begini, Sobat muslimah. Perempuan jelas memiliki hak untuk berkiprah di ranah publik. Sebagai sebuah sistem hidup, Islam memiliki lensa yang agung dan aturan yang unik mengenai perempuan.
Allah Swt. menurunkan seperangkat aturan yang menjelaskan pemberdayaan perempuan, baik di sektor domestik maupun publik. Islam meletakkan peran domestik perempuan sebagai ibu dan pengatur rumah tangga.
Berbeda dengan apa yang kaum feminis gambarkan, bahwa ibu bukanlah profesi berkelas, Islam justru menjadikan amanah tersebut sebagai kunci keberhasilan keluarga dan masyarakat. Dari didikan seorang ibulah, terwujud generasi cemerlang.
Sementara di sektor publik, Islam menggariskan kewajiban kepada perempuan untuk turut serta menyebarkan dakwah. Allah Swt. berfirman “Hendaklah ada di antara kalian segolongan umat, yang menyeru kebaikan(Islam), memerintahkan yang makruf dan mencegah kemungkaran…” (Ali Imran: 104)
Rasulullah saw. bersabda, “Siapa saja yang bangun pada pagi hari dan tidak memperhatikan urusan kaum muslimin, ia tidak termasuk golongan mereka. ” (HR Al-Hakim dan Al-Khatib)
Nah, jadi jelas, kan? Peran kita-kita di sektor publik ada jaminannya, kok, yakni tanpa diskriminasi. Mengapa? Sebab, baik laki-laki maupun perempuan, punya kewajiban yang sama. Meski demikian, aktivitas publik ini tidak boleh membuat perempuan lalai menjalankan peran domestiknya.
Apakah perempuan tidak bisa bersekolah tinggi dan turut menyumbangkan buah pikirnya di tengah-tengah masyarakat? Tentu saja boleh, Sobat. Bahkan Islam mendorong siapa pun yang ingin menuntut ilmu. Pada masa kejayaan Islam, tidak sedikit, lo, intelektual muslimah yang berkiprah di tengah-tengah masyarakat.
Ada yang menjadi hakim sebagaimana As-Syifa pada zaman Khalifah Umar bin Khaththab ra.. Ada Ibunda Aisyah ra. yang menguasai berbagai ilmu dan menjadi rujukan para sahabat. Ada Maryam al-asturlabi yang menjadi penemu kompas untuk pertama kalinya. Masih banyak lagi intelektual muslimah yang memberi banyak sumbangsih di tengah-tengah masyarakat.
Islam sama sekali tidak mengekang perempuan seperti yang ada dalam cerita fiksi maupun film yang menghakimi hukum-hukum Islam. Islam sungguh memuliakan perempuan, juga melindungi mereka dengan sebaik-baik perlindungan.
So, jangan mudah ikut arus dengan opini yang menyerang syariat tentang perempuan. Mulailah mempelajari Islam, dan pahami Islam sebagai sebuah sistem hidup. Niscaya bakal terlihat, deh, betapa Islam menempatkan perempuan pada posisi mulia. Mengapa? Karena perempuan begitu berharga. [MNews/Rgl)
Sumber gambar: unsplash
