[Tapak Tilas] Ziarah ke Rumah Rasulullah ﷺ

[Tapak Tilas] Ziarah ke Rumah Rasulullah ﷺ

Penulis: Siti Nafidah Anshory, M.Ag.

Muslimah News, TAPAK TILAS — Baytii Jannatii. Begitulah baginda Rasul menggambarkan keadaan rumahnya yang jauh dari mewah. Di sini beliau rehat. Di sini pula beliau wafat dan dikebumikan. Kita lihat gambaran rumah beliau bersama Ummul Mukminin Aisyah ra.. Benar-benar tidak istimewa. Rumah itu nyatanya hanyalah sebuah bilik kecil saja. Temboknya terbuat dari batu bata yang dilumur tanah liat, lalu dilapis kulit hewan sebagai penghangat. Sementara itu, lantainya hanya berupa tanah dan atapnya terbuat dari pelepah dan daun kurma.

Ukurannya kecil saja. Itu pun terbagi menjadi dua hujrah. Yakni bangunan terpisah berbentuk persegi empat. Hujrah yang pertama berukuran sekitar 5×4 m². Berfungsi sebagai ruang serba guna termasuk menjadi tempat pembaringan beliau. Sedang hujrah yang kedua, berukuran sekira 5 x 3,5 m². Berfungsi sebagai halaman belakang rumah.

Pintu setiap hujrah dibuat dari kayu sederhana dan ditutup kain kasar. Yang satu ada di sebelah barat, terhubung dengan masjid Nabawi. Satu lagi ada di sebelah barat, menjadi jalan penghubung antara rumah Aisyah dengan rumah ummul mukminin yang lainnya.

Sumber: islamiclandmark.com

Perabotannya pun serba sederhana. Apa yang disebut tempat tidur, nyatanya hanya alas tikar yang kasar saja. Sementara itu, bantalnya berisi serabut ijuk kurma.

Sayidina Umar pun Menangisinya

Dalam salah satu riwayatnya, Bukhari dan Muslim pernah menjelaskan, suatu hari sayidina Umar bin Al-Khaththab pernah menemui baginda Nabi Muhammad saw.. Ia mendapati beliau sedang berbaring di atas tikar kasar yang terbuat dari pelepah kurma. Beliau berbantalkan kulit kasar yang berisi serabut ijuk kurma. Demi melihat itu sayidina Umar pun menangis.

Lalu Rasulullah saw. pun bertanya, “Mengapa engkau menangis?” Sayidina Umar ra. menjawab, “Bagaimana aku tidak menangis. Tikar ini membekas pada tubuhmu. Engkau adalah Rasulullah (utusan Allah). Kekayaanmu hanya seperti ini, sedangkan Kisra dan raja-raja lainnya hidup bergelimang kemewahan.” Lalu Rasulullah pun menjawab, “Apakah engkau tidak rela jika kemewahan itu untuk mereka di dunia, sementara untuk kita di akhirat nanti?” (HR Bukhari-Muslim)

Nabi saw. berkata, “Mereka telah menyegerakan kesenangannya sekarang juga; sebuah kesenangan yang akan cepat berakhir. Sementara itu, kita adalah kaum yang menangguhkan kesenangan kita untuk hari akhir.” Beliau saw. pun melanjutkan, “Perumpamaan hubunganku dengan dunia adalah seperti orang yang bepergian pada musim panas. Sejenak ia berlindung di bawah pohon, lalu pergi dan meninggalkannya.”

Sederhana, Tetapi Penuh dengan Cahaya

Meski begitu sederhana, rumah ini adalah rumah cahaya. Banyak wahyu Allah yang turun di sana, bahkan Malaikat Jibril pun kerap mengunjunginya. Sayidah Aisyah pernah berkata, “Aku pernah melihat wahyu turun kepada Rasulullah pada suatu hari yang sangat dingin sehingga beliau tidak sadarkan diri, sementara keringat bercucuran dari dahi beliau.“ (HR Bukhari)

Bahkan, wahyu pun sempat turun saat Rasulullah saw. sedang berselimut dengan Aisyah. Diriwayatkan bahwa Ummu Salamah pernah mewakili istri-istri lain menyampaikan suatu keinginan mereka kepada Rasulullah saw.. Rasul saw. pun bersabda, “Wahai Ummu Salamah, janganlah kamu mencelaku tentang Aisyah. Demi Allah, wahyu tidak turun kepadaku dalam selimut perempuan di antara kalian kecuali Aisyah.”

Pernikahan Rasulullah saw. bersama Aisyah yang berusia sangat muda, ternyata mengandung hikmah yang sangat banyak. Aisyah adalah perempuan cerdas. Banyak sunah Rasulullah saw. yang beliau saksikan dan beliau hafal. Sampai-sampai para sahabat radhiyallaahu ‘anhum menjadikannya guru dan para ahli hadis menempatkan beliau pada urutan kelima dari para penghafal hadis setelah Abu Hurairah, Ibnu Umar, Anas bin Malik, dan Ibnu Abbas. Betapa tidak? Beliau radhiyallaahu ‘anha punya banyak kesempatan untuk bertanya tentang berbagai hal kepada Nabi saw., termasuk maksud ayat yang turun, maupun perkara-perkara lainnya.

Tidak heran jika beliau banyak menghafal hadis yang tidak diriwayatkan oleh sahabat yang lainnya. Wajar jika Abu Salamah pernah berkata, “Aku tidak pernah melihat seorang yang lebih mengetahui Sunah Rasulullah, lebih benar pendapatnya jika dia berpendapat, lebih mengetahui bagaimana Al-Qur’an turun, serta lebih mengenal kewajibannya selain Aisyah.”

Rumah Kesedihan

Saat baginda Rasul saw. ditimpa sakit yang sangat payah, beliau dirawat di rumah mungil ini. Rumah ini bahkan menjadi saksi kesedihan yang begitu mendalam dari keluarga dan para sahabat radliyallaahu ‘anhum saat kekasih mereka akhirnya kembali ke rafiqil a’la.

Selepas baginda Rasul wafat, para sahabat sempat berdebat soal di mana beliau harus dimakamkan. Ada yang berpendapat bahwa mimbar Rasul adalah tempat yang tepat. Ada juga yang menyaranka, agar beliau dikuburkan di area mihrab. Lalu sayidina Abu Bakar berkata, bahwa beliau pernah mendengar Rasul saw. bersabda, “Tidak seorang nabi pun meninggal dunia, kecuali dimakamkan di tempat ia meninggal”. Maka jadilah kamar Aisyah sebagai makam Rasulullah saw..

Ket. Ketika Rasulullah baru wafat belum diberi dinding pemisah dengan kamar Aisyah

Para sahabat bersaksi bahwa saat beliau wafat, jasadnya begitu harum. Hal ini diriwayatkan dalam Shahih Bukhari tentang kisah wafatnya nabi bahwa ketika Abu Bakar datang dan membuka penutup wajah Rasul, Abu Bakar berkata, “Demi Allah dan ibuku, sungguh engkau tetap harum sewaktu hidup maupun mati.”

Selang waktu beberapa tahun kemudian, sayidina Abu Bakar wafat. Beliau meminta izin untuk dikuburkan di samping jasad sahabatnya. Dikuburkanlah beliau di tempat itu. Sayidah ‘Aisyah sebetulnya sangat ingin dimakamkan di sebelah Rasulullah saw. dan Abu Bakar. Namun, karena Umar bin Khaththab meminta, maka ‘Aisyah pun mengizinkan. Maka di kamar mungil itu, terdapat tiga makam dari jasad yang mulia, yakni jasad Rasulullah saw., sayidina Abu Bakar, dan sayidina Umar ra..

Lalu sebagai bentuk adab terhadap sayidina Umar, sayidah Aisyah membuat sekat antara area makam dengan kamarnya. Sementara iti, saat beliau wafat, beliau dimakamkan di pemakaman Jannatul Baqi’.

Rumah Rasulullah Hari Ini

Setiap jemaah haji dan umrah pasti menyempatkan berziarah ke rumah Rasulullah yang sekaligus menjadi makam beliau dan dua sahabatnya. Rumah atau makam itu posisinya tidak terpisah dengan Masjid Nabawi. Tepatnya ada di sebelah tenggara masjid, ditandai dengan kubah berwarna hijau. Makam itu kini diberi tembok pembatas, tanpa pintu atau jendela, kecuali lubang kecil yang sering diintip para peziarah.

Jika ingin masuk ke dalam area makam, maka peziarah harus melewati pintu Fathimah ra. (putri Nabi saw.). Namun, pintu ini hanya dibuka jika ada para pembesar yang ingin berziarah atas izin pihak yang berwenang.

Ket. Pintu Fatimah

Selain untuk berziarah, para jemaah juga berlomba ke tempat ini untuk berdoa di area raudhah, yakni area di antara makam/rumah Rasul dengan mimbar beliau yang disebut-sebut sebagai salah satu tempat mustajab. Rasulullah saw. pernah bersabda, “Antara rumahku dan mimbarku adalah taman di antara taman-taman yang ada di surga.” Peziarah yang ingin melihat lebih jelas gambaran replika rumah Rasulullah saw. serta posisi makam beliau di masa lalu bisa berkunjung ke Museum Muhammad The Messenger of Allah Exhibition. Museum ini terletak persis di depan Gerbang 8 Masjid Nabawi.

Di sana kita bisa mendapatkan sedikit gambaran tentang situasi di masa lalu, dan mencerap spirit perjuangan Rasulullah saw. dalam menegakkan risalah Islam dan mengasah sebuah peradaban cemerlang. Sungguh, generasi hari ini butuh banyak belajar dari sejarah perjuangan Rasulullah saw. dan para sahabatnya. Juga belajar dari kehidupan pribadinya yang penuh dengan keteladanan agar umat Islam bisa benar-benar paham amanah risalah yang beliau tinggalkan dan paham bagaimana seharusnya mereka menjalani kehidupan. [MNews/Ruh]

Foto sampul: Agendasenior

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *