[Nafsiyah] Akhir Hidup Orang Zalim

[Nafsiyah] Akhir Hidup Orang Zalim

Muslimah News, NAFSIYAH — Orang zalim akan selalu ada pada setiap zaman. Ketika ia berkuasa, ia menjadi penguasa diktator. Setiap keputusan-keputusannya pun menzalimi rakyat. Namun, Allah Swt. menunda siksaan dan ajal bagi mereka agar mereka kian bertambah zalim dan melampaui batas. Mengapa demikian?

Allah Swt. berfirman, “Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka, dan bagi mereka azab yang menghinakan.” (QS Ali Imran: 178).

Allah Swt. juga telah memberi ancaman bagi orang-rang zalim dengan mendahulukan hukuman mereka di dunia sebelum kembali ke akhirat. Karena hinanya kezaliman dan banyaknya efek buruk bagi masyarakat.

Rasulullah saw. bersabda, “Tidak ada sesuatu yang aku patuhi kepada Allah di dalamnya (amalan itu) lebih cepat mendapat ganjaran lebih dari menyambung tali silaturahmi, dan tidak ada sesuatu yang lebih cepat hukumannya dari berbuat zalim dan memutus tali silaturahmi.” (HR Baihaqi).

Dengan demikian, balasan bagi orang zalim yakni akhir hidupnya akan sangat menyakitkan. Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah akan menangguhkan siksaan bagi orang yang berbuat zalim. Apabila Allah telah menghukumnya, maka Dia tidak akan pernah melepaskannya.” Kemudian Rasulullah membaca ayat yang berbunyi, “Begitulah azab Tuhanmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab itu sangat pedih dan keras.” (QS Hud: 102)

Catatan Sejarah

Sejarah telah mencatat, akhir hidup orang zalim hina dan menyedihkan. Firaun mati tenggelam di Laut Merah. Kaum Aad dan Tsamud yang berlaku zalim juga dihancurkan dengan hukuman pedih. Kaum Tsamud dihancurkan Allah dengan thaagiah (suara yang sangat keras), sedangkan kaum Aad dihancurkan Allah dengan badai angin yang sangat dingin dan kencang selama tujuh malam delapan hari.

Begitu pula dengan Namrud  yang mati mengenaskan karena serangan seekor nyamuk. Abu Jahal tewas menyedihkan di Badar. Ataturk mati membusuk di ranjang. Kekuasaan mereka tidak abadi, sementara jejak kezaliman mereka abadi yang berdampak pada mereka sendiri: mendapatkan dosa jariah.

Imam al-Ghazali menuliskan dalam kitabnya, Ihya’ Ulumuddin, 2/74, “Sungguh beruntung orang yang jika mati maka mati juga dosa-dosanya. Dan celaka seseorang yang mati dan dosa-dosanya tetap mengalir seratus tahun, dua ratus tahun atau lebih, dia disiksa dan dikuburnya karena dosa yang mengalir dan dimintai pertanggungjawaban tentangnya hingga berakhirnya dosa tersebut.”

Ingatlah, wahai pelaku kezaliman. Sungguh, jika kalian tengah berkuasa, kekuasaan kalian tidak akan abadi, akan berakhir dengan akhir hidup yang menyedihkan.

Segeralah bertobat jika masih Allah berikan kesempatan hidup, belum berpisah nyawa dari raga. Sungguh tempat kembali yang kekal bagi manusia hanya dua, surga dan neraka. Hendak ke manakah kita akan kembali dan memilih? [MNews/Rndy]

Sumber gambar: unsplash

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *