[Nafsiyah] Jadilah Pasangan Pejuang yang Menyegerakan Kemenangan Islam

[Nafsiyah] Jadilah Pasangan Pejuang yang Menyegerakan Kemenangan Islam

Muslimah News, NAFSIYAH — “Jika kamu mendapatkan kekecawaan dari manusia, tetaplah mengharapkan sesuatu dari Allah Swt., bukan dari manusia. Dengan ini, engkau tetap berbuat baik pada siapa pun.” Kalimat ini juga berlaku di antara pasangan suami istri pejuang Islam. Lika liku rumah tangga yang dijalani pasangan pejuang juga memengaruhi perjuangan Islam.

Saudariku, sungguh manusia tidak bisa berbuat baik secara terus-menerus. Kadang kala ia melakukan kesalahan. Hal itu juga terjadi pada pasangan suami istri. Suami bukanlah alat pemuas, begitu pun pula dengan istri, keduanya tidak selalu bisa mewujudkan segala harapan dan ekspektasi yang diinginkan.

Suami istri memiliki masalah masing-masing. Kita tidak bisa menggenggam seluruh kehidupan pasangan kita. Suami memiliki sisi sendiri antara ia dan Allah Swt.. Begitu pun dengan istri yang memiliki sisi sendiri antara ia dan Allah Swt..

Berkeluarga tidak menjanjikan kepuasan tetapi pasti memberikan keberkahan. Bukankah di balik lelaki yang bersabar, ada kemungkinan ia akan dibukakan pintu surga? Bukankah di balik wanita yang bersabar lalu meminta maaf pada suaminya meskipun suaminya bersalah, delapan pintu surga akan memanggil dan rindu kepadanya?

Saudariku, ketika menetapkan tujuan berumah tangga hanya untuk mendapatkan kebaikan dari pasangan kita, hal itu merupakan tujuan yang sangat kecil nilanya. Akhirnya masalah kecil akan menjadi besar karena tujuannya sangat kecil. Tujuannya bukan pahala, rahmat, dan pintu-pintu surga yang menanti. Padahal itu semua tujuan besar dalam berumah tangga.

Saat konflik suami istri terjadi, kita sering lupa tujuan besar dalam berumah tangga. Kita pun sering amnesia terkait keimanan yang dimiliki. Akhirnya, kita berbuat baik karena manusia, bukan karena ingin meraih keridaan Allah Swt..

Saudariku, sungguh aktivitas perjuangan juga dipengaruhi oleh sejauh mana hubungan baik dan harmonis antar pasangan dalam rumah tangga. Tidak sedikit “gugurnya” para pejuang Islam karena ujian rumah tangga dan keluarganya.

Marilah kita upayakan untuk tetap berbuat baik pada pasangan dan mengingatkan kesalahannya dengan makruf, semata-mata karena rida-Nya. Ketika kita bisa bersabar menghadapi umat dan para mad’u dakwah. Tentunya kesabaran yang utama kita berikan pada pasangan kita.

Agar tidak muncul kekecewaan yang mendalam karena kekurangan pasangan, maka tanamkanlah pemikiran, kekurangan suami akan dilengkapi dengan kelebihan istri. Begitupun sebaliknya.

Ibnul Jauzi mengatakan, “Tidaklah ada dalam beban syariat ini sesuatu yang lebih susah dari pada bersabar menghadapi ketetapan dan tiada sesuatu di dalamnya yang lebih utama dari pada bersikap rida terhadapnya.” (Shaidul Kathir, h.107). Ridalah dengan segala kekurangan dan kelebihan pasangan.

Sungguh hanya Allah Swt. yang akan membalas segala pengorbananmu wahai suami atas lelahnya mencari nafkah, berdakwah, serta mendidik dan melindungi keluarga. Sungguh hanya Allah Swt yang membalas segala rasa lelah, letih, dan sulitmu duhai istri karena mengurus, merawat, mendidik anak-anak, serta menyiapkan generasi tangguh untuk Islam. Hanya kepada Allahlah kita mengharapkan pahala.

Saudariku, ketahuilah khidmat istri kepada suami merupakan amalan pemuka kebahagiaan. Ingatlah sabda Rasulullah saw., “Apabila seorang wanita mengerjakan salat lima waktu, menjaga kemaluannya, dan menaati suaminya, niscaya dia akan masuk surga dari pintu-pintu surga yang ia sukai.” (HR Ahmad dan Ibnu Hibban)

Tidak lupa kita memperbanyak doa agar mampu mengemban amanah sebagai suami dan istri yang diridai Allah Swt., membantu perjuangan Islam, dan menyegerakan meraih kemenangan, serta menjadi pasangan pejuang yang bersinergi menolong agama-Nya dan senantiasa terus melayakkan diri untuk meraih pertolongan-Nya. Amin. [MNews/Rndy]

Sumber gambar: unsplash

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *