Muslimah News, KISAH INSPIRATIF — Suatu hari, Khalifah Umar bin Khaththab ra. masuk ke dalam masjid Nabawi dan mendapati Nu’man ra. sedang salat. Kemudian Khalifah Umar duduk di sampingnya dan menunggunya sampai selesai salat. Seusai salat, Khalifah Umar ra. berkata, “Aku akan menugaskanmu lagi.” “Kalau untuk mengambil pungutan, aku tidak mau. Akan tetapi, kalau sebagai panglima perang, aku mau,” jawab Nu’man. “Aku akan menugaskanmu sebagai panglima perang,” kata Umar.
Pada saat itu, tersiar kabar bahwa penduduk Isfahan, Hamadan, Ray, Azerbaizan, dan Nahrawand telah berkumpul dan bersatu kembali. Khalifah Umar sangat cemas mendengar berita tersebut, sehingga ia mengangkat Nu’man untuk menumpas mereka.
Nu’man pun berangkat menuju Kufah dan mempersiapkan pasukan. Ia bersama pasukannya menyerang wilayah Isfahan hingga akhirnya wilayah ini berhasil ditaklukkan. Kemudian ia bersama pasukannya bergerak menuju wilayah Nahrawand.
Tatkala Nu’man sampai di Nahrawand, ia bermunajat dan berkata, “Ya Allah, anugerahilah Nu’man kesyahidan dengan pertolongan pasukan kaum muslim dan berilah mereka kemenangan dalam pertempuran ini.” Pasukan kaum muslim mengamini doa yang dipanjatkannya tersebut. Kemudian ia mengatakan kepada para pasukannya, “Jika panji ini robek menjadi tiga bagian, hendaklah kalian membawa robekan yang ketiga.” Pasukan kaum muslim pun menyerang pasukan musuh hingga akhirnya doa Nu’man terkabul. Ia gugur sebagai syuhada pada 21 H.
Pada hari meninggalnya Nu’man, Khalifah Umar menyiarkan berita kematiannya di atas mimbar sambil meneteskan air mata.
Tentang Nu’man, Ibnu Mas’ud ra. berkata, “Sesungguhnya iman itu memiliki rumah dan kemunafikan juga memiliki rumah. Di antara rumah iman itu adalah rumah Ibnu Muqrin.”
Nu’man meriwayatkan enam hadis Nabi ﷺ. Inilah bunyi salah satu hadis yang ia riwayatkan, “Aku pernah menyaksikan Rasulullah ﷺ. Apabila beliau tidak menyerang pada awal siang, beliau akan menunda penyerangan hingga mentari terbenam. Angin pun berhembus kencang dan pertolongan pun turun.” (HR Abu Daud dan Tirmidzi). (Syekh Muhammad Sa’id Mursi, Tokoh-Tokoh Besar Islam Sepanjang Sejarah, hlm. 75)
Hikmah
Kisah Nu’man bin Muqrin atau dikenal sebagai Ibnu Muqrin bisa menjadi petikan hikmah bagi para pejuang Islam yang sedang mempersembahkan dirinya untuk dakwah dan kemenangan Islam. Ada beberapa hikmah dari kisah tersebut.
Pertama, sebagai panglima perang, Nu’man sama sekali tidak gentar terhadap musuh yang ia hadapi. Keteguhan dan ketangguhannya sebagai pejuang tidak pernah luntur. Teguh dan tangguh, sifat inilah yang harus senantiasa ada dalam diri seorang pejuang Islam dan pengemban dakwah.
Jika futur dan lelah melanda, ingatlah bahwa perjuangan dan dakwah Islam yang dilakukan Baginda Rasulullah ﷺ bersama para sahabat bukanlah jalan yang mulus. Justru dalam perjuangan ini, kita akan berjumpa dengan berbagai tantangan, hambatan, juga cobaan yang menguji kesabaran, keteguhan, dan ketangguhan iman kita di hadapan Allah Taala. Ujian dakwah yang kita terima tidak lebih berat dari ujian yang menimpa Rasulullah ﷺ dan para sahabat.
Setiap manusia pasti akan diuji, terlebih ia seorang pendakwah. Allah Swt. berfirman, “Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ dan mereka tidak diuji? Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS Al-Ankabut: 2–3).
Kedua, dalam setiap masa berdirinya Kekhalifahan Islam, akan selalu ada musuh-musuh yang tidak menyukai Islam diterapkan dan menjadi peradaban unggul. Dalam kepemimpinan Khalifah Umar bin Khaththab yang dikenal sebagai pemimpin dan kepala negara yang tegas, masih ada benih-benih permusuhan terhadap Islam.
Seperti halnya hari ini, akan selalu ada suara-suara sumbang untuk memperlemah perjuangan dan mengecilkan mimpi besar umat membangkitkan kembali Islam sebagai negara dan peradabannya. Oleh karena itu, seyogianya para pengemban dakwah tidak berkecil hati jika belum mendapat dukungan penuh dari mayoritas kaum muslim. Hal ini semestinya menjadi tantangan bagi kita untuk tidak menyerah dalam mengedukasi dan memahamkan umat tentang Islam secara menyeluruh.
Kita harus selalu ingat bahwa barometer kebenaran bukanlah jumlah, tetapi dilihat dari pedoman mengikuti Al-Qur’an dan sunah, siapa pun dan di mana pun ia berada. Imam Syafi’i berkata, “Setiap orang yang berbicara berdasarkan Al-Qur’an dan sunah, maka (ucapan) itu adalah ketentuan yang wajib diikuti. Dan setiap orang yang berbicara tidak berlandaskan kepada Al-Qur’an dan sunah, maka (ucapannya) itu adalah kebingungan.” (Manâqib Asy Syâfi’i, hlm. 470).
Semoga Allah Swt. senantiasa memberkahi perjuangan mengembalikan kehidupan Islam yang dilakukan oleh para pengemban dakwah yang teguh dan tangguh dalam menghadapi kondisi apa pun. Wallahualam. [MNews/CJ-YG]
