Arqam bin Abi al-Arqam, Pemilik Rumah Dakwah Pertama dalam Islam

Arqam bin Abi al-Arqam, Pemilik Rumah Dakwah Pertama dalam Islam

Penulis: Chusnatul Jannah

Muslimah News, KISAH INSPIRATIF — Nama sahabat yang satu ini mungkin tidak setenar Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khaththab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib. Empat sahabat sekaligus khalifah besar tersebut memang tidak bisa dibandingkan dengan sahabat lainnya. Akan tetapi, setiap sahabat Nabi saw. berperan besar terhadap perjalanan dakwah Islam. Di antara mereka adalah Arqam bin Abi al-Arqam, salah satu sahabat yang termasuk dalam golongan assabiqunal awwalun. Namanya memang tidak begitu mentereng, tetapi kontribusinya dalam dakwah tidak bisa dianggap enteng.

Silsilah Keluarga

Arqam adalah putra dari Abdu Manaf bin Asad bin Abdullah yang dipanggil (kunyah) Abu al-Arqam. Ibunya bernama Umaimah binti al-Harits bin Hibalah. Ayahnya adalah orang yang cukup terpandang dari kalangan Quraisy Bani Makhzum dan masih satu kabilah dengan Abu Jahal. Sedangkan ibunya berasal dari kabilah Khuza’ah.

Ia bernama Abu Abdillah Abdu Manaf bin Asad bin Abdillah bin Umar bin Makhzum bin Yaqodhoh bin Murrah bin Kaab bin Luay Al Qurasy Al Makhzumy atau dikenal dengan nama Arqam bin Abi al-Arqam. Beliau berasal dari Bani Makhzum yang merupakan keturunan Makhzum bin Yaqadhah, cucu dari tokoh Quraisy Murrah. Dari kabilah inilah muncul sederet nama-nama terkenal, baik dari kalangan muslim atau musyrik.

Di antara mereka yang berasal dari Bani Makhzum adalah Abu Jahal, Khalid bin Walid, Ummu Salamah, Abu Salamah, Hindun, dan lainnya. Bani Makhzum berperan dan bertugas penting dalam kalangan Quraisy. Mereka adalah para pengurus gudang persenjataan dan tenaga tempur. Bani Makhzum yang mengumpulkan kuda dan senjata bagi para prajurit.

Pekerjaan sehari-hari Arqam adalah sebagai pedagang. Ia merupakan salah satu pedagang yang berpengaruh dari Bani Makhzum. Arqam menikah dengan seorang wanita bernama Hindun binti Abdullah dari Bani Asad dan dikaruniai dua anak, yaitu Umayyah dan Maryam. Anak-anaknya yang lain adalah Abdullah, Usman, dan Shafiyyah. Namun Ibnu Sa’ad dalam Al-Thabaqat al-Kubra tidak mencatat nama istri yang merupakan ibu mereka. Hanya saja, menurut Ibnu Sa’ad, Arqam dikenal dengan panggilan Abu Abdillah sebagai kunyah baginya.

Rumah Dakwah Pertama

Dikisahkan dalam banyak riwayat sejarah, terdapat dua kabilah besar suku Quraisy Makkah yang memiliki persaingan sengit, yakni Bani Hasyim dan Bani Makzhum. Inilah salah satu alasan yang membuat rumah Arqam luput dari pandangan orang-orang Quraisy saat Nabi saw. merekrut dan mendidik para sahabat yang memeluk Islam. Saat itu, dakwah masih dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Namun siapa sangka, di balik rumah pemuda Bani Makzhum ini, proses tasqif (pembinaan) yang Nabi saw. lakukan kepada orang-orang yang memeluk Islam terlaksana dengan sempurna. Dari rumah Arqam, lahirlah para sahabat utama, golongan assabiqunal awwalun, bibit unggul didikan dan binaan Nabi ﷺ.

Bani Makzhum adalah pesaing berat Bani Hasyim. Pantas saja, selama Rasulullah saw. membina para sahabat di rumah Arqam, orang-orang Quraisy tidak pernah mencurigainya. Ini karena dalam pandangan mereka, tidak mungkin Rasulullah saw. yang berasal dari Bani Hasyim akan menjadikan rumah salah seorang dari Bani Makzhum sebagai pusat pengajaran dan pendidikan Islam. Ini mengingat permusuhan dan persaingan di antara dua kabilah ini. Apalagi perbedaan usia yang cukup jauh antara Arqam yang masih muda dengan Nabi saw. yang cukup matang. Menurut logika orang-orang Quraisy, tidak mungkin Muhammad menjadi rumah seorang pemuda sebagai tempat persinggahannya. Hal ini juga yang menjadi alasan mengapa Rasulullah saw. memilih rumah Arqam sebagai rumah dakwah pertama bagi kaum muslim.

Keutamaan Arqam

Jika kita telisik kembali, peran Arqam pada masa awal dakwah Islam cukup krusial dan penting. Saat itu, Islam menjadi agama baru yang pergerakan dan penyebarannya masih sembunyi-sembunyi dari penduduk Makkah. Rumah Arqam ibarat penyejuk dan pelepas dahaga bagi para sahabat yang mengikuti pembinaan dan pendidikan langsung dari Nabi ﷺ.

Di antara keutamaan Arqam ialah ia termasuk golongan pertama yang masuk Islam. Lewat perantara dakwah Abu Bakar ash-Shiddiq, Arqam masuk Islam bersama Abu Ubaidah bin Jarrah, Bilal bin Rabah, Abu Salamah, dan Usman bin Mazh’un.

Keutamaan lainnya, ia adalah sahabat yang aktif mengikuti berbagai peperangan, salah satunya  perang Badar. Dalam perang ini,  Rasulullah saw. memberinya sebuah pedang dari harta rampasan perang yang ditinggalkan pemiliknya, yakni Ibnu ‘Aidz al-Mazraban. Ia juga mengikuti perang Uhud pada tahun ketiga Hijriah.

Wafatnya Arqam

Abu Abdillah wafat pada usia 85 tahun, yakni pada 55 H, pada masa kepemimpinan Khalifah Utsman bin Affan. Sebelum meninggal, ia berwasiat agar yang memimpin salat jenazahnya adalah Sa’ad bin Abi Waqqash.

Namun saat ia wafat, Sa’ad belum juga datang. Marwan bin Hakam—gubernur Madinah kala itu—hendak menjadi imam salat jenazah. Sebagian besar keluarga menolak dan memilih menunggu Sa’ad datang. Akhirnya, Sa’ad bin Abi Waqqash hadir dan memimpin salat jenazah Arqam. Jenazah Arqam dikubur di pekuburan Baqi’.

Khatimah

Kisah Arqam memberi pesan penting bagi umat muslim. Apa pun profesi kita, berkontribusilah dalam dakwah, meski sekadar menyediakan rumah atau tempat untuk kegiatan dakwah. Apa saja yang dapat kita berikan, jadikanlah saksi bisu perjuangan hingga Islam kembali menang. Sungguh, tidak ada peran yang sia-sia dalam perjuangan mengembalikan kehidupan Islam. Dalam peran besar atau kecil, kontribusi kita sangat bernilai pahala di sisi Allah Taala. Wallahualam. [MNews/YG]

*Disarikan dari berbagai sumber

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *