[Nafsiyah] Hindari Sifat Bakhil dan Asy-Syuhh

[Nafsiyah] Hindari Sifat Bakhil dan Asy-Syuhh

Muslimah News, NAFSIYAH — Kita tidak begitu kaget mendengar adanya harta yang nilainya fantastis milik kalangan pejabat negeri ini. Mengingat kita masih berada dalam sistem kapitalisme sekuler yang membolehkan siapa pun untuk menghalalkan segala cara demi meraih materi. Kita tidak menyebut seluruh pejabat, tetapi ada pejabat yang keluar masuk gedung KPK karena tersangkut persoalan kepemilikian harta yang bukan hak mereka.

Menimbun harta mumpung masih menjabat, sepertinya sudah menjadi rahasia umum. Padahal setiap satu rupiah yang dimiliki tidak akan luput dari penghisaban Allah Taala.

Hendaknya kita memahami bahwa harta jika ditimbun terlalu banyak tidak akan bisa dimanfaatkan. Sebagaimana air yang disimpan terlalu banyak justru akan membanjiri dan tidak bermanfaat bagi pemiliknya.

Inilah yang menjadikan setiap muslim memiliki kewajiban untuk berzakat, serta disunahkan untuk bersedekah. Hikmahnya ialah agar “membersihkan” harta yang mereka miliki. Ketahuilah, Saudariku, harta itu menjadi recehan jika kita yang memegangnya, tetapi akan bermakna besar jika dititipkan kepada Allah Taala.

Allah tidak akan mungkin mengurangi titipan kita tersebut. Sungguh terlaknat orang yang telah menunaikan salatnya, tetapi ia menahan hartanya. Sesungguhnya kita bisa memilih harta yang mengalir pada kita, apakah diperoleh dari cara yang benar atau salah?

Setiap pilihan kita, tentu akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Taala. Seorang muslimah yang sebelumnya pernah menjadi anggota dewan, ia mengatakan, “Di salah satu lembaga negara negeri ini, banyak sekali amplop yang tidak bertuan berada di atas meja para anggota fraksi. Namun, saat ditanya, amplop apakah ini dan siapakah yang memberikannya?” Justru ia mendapat jawaban, “Tidak perlu ditanya, ambil saja.”

Padahal mengambil sesuatu yang ternyata bukan hak kita justru akan meraih dosa. Hal ini yang mengingatkan kita atas firman Allah Taala, “Barang siapa yang mengerjakan kebaikan sekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan sekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS Al-Zalzalah: 6—8).

Seorang muslim juga harus menghindari sifat bakhil. Orang bakhil yakni mencintai hartanya melebihi apa pun juga. Ia merasa bahwa harta kekayaannya adalah miliknya secara hakiki hingga ia sulit melepaskannya.

Firman Allah Swt. “Sekali-kali janganlah orang-orang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat.”(QS Ali Imran: 180).

Imam Al-Ghazali menjelaskan, ada dua hal penyebab bakhil. Pertama, cinta harta dan takut miskin. Kedua, panjangnya angan-angan. Untuk mengobatinya harus mencari lawan dari penyebabnya itu. Apakah obatnya itu? Ialah sifat kanaah (merasa cukup dengan apa yang telah ada).

Kemudian, jika kebakhilan disebabkan panjangnya angan-angan, obatnya menurut Imam Al-Ghazali adalah dengan mengingat kematian. Rasulullah saw. pernah menjelaskan bahwa orang yang bakhil itu bukan saja ia enggan memberikan harta yang dimiliki. Namun, karena ia tidak mau mengucapkan selawat bepadaian.

Sabda Rasulullah saw, “Orang yang bakhil (kikir) yaitu ketika disebut namaku kepadanya lalu ia tidak membaca selawat untukku.” (HR Tirmidzi).

Sebagian ulama membedakan antara bukhl (kikir) dan asy-Syuhh. Bukhl artinya pelit terhadap apa yang ada di tangannya saja (miliknya). Asy-Syuhh bermakna kikir terhadap apa yang ada di tangannya (miliknya), tetapi juga menghendaki agar milik orang lain berpindah kepadanya. Asy-Syuhh lebih berbahaya dan sulit dari bukhl.

Saudariku, kita harus menghindari kedua sifat di atas yakni bakhil dan asy-Syuhh. Karena ada lima hal yang akan didapatkan oleh mereka yang memiliki sifat tersebut.

Pertama, penyebab kebangkrutan. Kedua, mendapatkan siksaan dari Allah Taala. Ketiga, banyak ditimpa masalah. Keempat, hartanya habis oleh perilakunya sendiri. Kelima, ditimpa penyakit kronis yang mampu menghabiskan hartanya.

Harta merupakan salah satu titipan Allah Taala, mudah bagi Allah untuk mengambil titipan-Nya, apakah secara baik maupun paksa. Di dunia, manusia bisa luput dari perhitungan atas harta yang dimilikinya. Namun, di akhirat, Allah Taala tidak akan melewatkan sedikit pun dari setiap harta yang dimiliki untuk dimintai pertanggungjawabannya. Wallahualam. [MNews/Rndy-Rgl]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *